Pagi itu, suasana rumah Pramasta dan Ayu terasa damai. Sinar matahari masuk dari jendela besar ruang makan, memantul di meja kayu panjang tempat sarapan sudah tersaji. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara. Meski masih pagi, Ayu sudah bangun. Sekarang, dia berdiri di dapur sedang menuangkan kopi panas ke dalam cangkir. Rambutnya diikat asal, mengenakan dress rumah sederhana yang justru membuatnya terlihat semakin lembut. Di belakangnya, langkah kaki pelan diam-diam mendekat. Dua tangan besar melingkar di pinggangnya. Ayu menyadarinya, tapi berusaha tidak menggagalkan kejutan yang datang. “Pagi, Sayang” bisik Pramasta, suaranya masih berat karena baru bangun. "Kaget, nggak?" Ayu tersenyum tanpa menoleh. "Kaget, dong." "Hm... reaksimu nggak sesuai," protes Pramasta sembari mengge

