Bab 92 Permainan Dimulai

1030 Kata

Malam menelan kota dengan gelapnya. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma basah yang menempel di aspal dan dedaunan. Lampu jalan memantul di genangan kecil, membentuk bayangan yang bergetar. Dari balik jendela rumah Pramasta, Dimas menatap Selvi yang duduk di sofa, tubuhnya masih menggigil, matanya kosong. Ayu duduk di sampingnya, terus menepuk punggungnya perlahan, menenangkan tangis yang baru saja reda. Di ruang kerja Pramasta, suasana berbeda. Dimas dan Pramasta duduk berhadapan, map dan dokumen masih terbuka di atas meja. Lampu ruang kerja memberi cahaya hangat, tapi tetap tidak mampu mengusir ketegangan yang menggantung di udara. “Aiden… dia bukan orang biasa,” kata Dimas, memecah keheningan. Matanya masih menatap punggung Selvi, khawatir. Pramasta mengangguk pelan. “Sudah jelas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN