Rumah Pramasta perlahan menjadi lebih tenang ketika malam semakin larut. Lampu ruang tamu diredupkan. Hujan di luar hanya tersisa rintik kecil yang sesekali menyentuh kaca jendela. Udara malam terasa dingin dan berat, seolah kota ikut menahan napas setelah kekacauan yang terjadi beberapa jam lalu. Di kamar tamu, Selvi akhirnya tertidur. Bukan tidur yang benar-benar tenang—napasnya masih sesekali tidak stabil, tubuhnya kadang bergerak gelisah di bawah selimut. Namun setidaknya matanya sudah terpejam. Dimas duduk di kursi di dekat tempat tidur. Ia tidak pulang. Tangannya saling menggenggam, siku bertumpu pada lutut, matanya terus mengawasi Selvi seolah takut jika ia berkedip terlalu lama, sesuatu akan terjadi. Sesekali ia berdiri, memeriksa jendela, memastikan tirai tertutup rapat lalu ke

