Pagi itu, sinar matahari menembus jendela rumah keluarga Pramasta dan Dimas dengan lembut. Suara kendaraan di jalan mulai terdengar, namun di dalam rumah, suasana cukup tenang. Selvi berdiri dengan postur anggun, wajahnya tersenyum tipis saat Dimas membantu memakaikan jasnya dengan rapi. “Kamu harus terlihat rapi, meski aku tahu kamu selalu rapi,” kata Dimas sambil menyentuh bahunya, mencoba nada ringan untuk mencairkan ketegangan yang masih ada di antara mereka. Selvi tersenyum, tapi matanya tetap sedikit dingin, seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. “Aku tahu, thanks,” jawabnya singkat. Ia menunduk sebentar, memastikan rambutnya lurus sempurna. Di ruang tamu, orang tua Dimas menatap mereka berdua dengan senyum tipis. “Kalian berdua terlihat… se

