Pagi datang bersama cahaya keemasan yang menyelinap melalui tirai tipis suite room. Suara ombak terdengar lebih jelas daripada malam sebelumnya. Suasana ritmis, menenangkan, seperti lagu pengantar bangun yang lembut. Udara pagi masih dingin, membawa aroma laut yang segar. Ayu terbangun perlahan. Hal pertama yang ia sadari adalah kehangatan. Ternyata, ia masih berada dalam pelukan Pramasta. Lengan pria itu melingkar protektif di pinggangnya, seolah bahkan dalam tidur pun ia tidak berniat melepaskannya. Kepala Ayu bersandar di d**a Pramasta, mendengar detak jantungnya yang stabil, tenang dan aman. Ayu membuka mata sepenuhnya dan mendongak sedikit. Wajah Pramasta tampak berbeda saat tidur, tidak ada ekspresi CEO tengil, tidak ada tatapan dominan, hanya pria yang terlihat lelah dan damai. “

