Mobil hitam milik Pramasta meluncur pelan meninggalkan area hotel, bagasi belakangnya bahkan nyaris tidak bisa ditutup sempurna karena dijejali kardus, kantong plastik besar, dan tas kain berisi oleh-oleh. Ayu yang duduk di kursi penumpang depan menoleh ke belakang sambil menahan tawa. “Pram… itu koper Ibu kayaknya kegencet keripik semua deh.” Dari kursi belakang, Ibu Ayu langsung protes. “Lho justru itu sengaja! Biar keripiknya nggak remuk!” “Iya tapi koperku jadi korban,” sahut Ayu setengah pasrah. Di sampingnya, Ibu tirinya—yang sejak tadi sibuk menghitung ulang daftar titipan—mengangguk serius. “Ini masih kurang satu. Buat Bu RT.” Pramasta melirik spion tengah. “Kurang satu? Bukannya tadi udah lima kardus, Bu?” “Bu RT minta dua.” Ayu menutup wajahnya dengan tangan. “Ya Tuhan…”

