Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Langit masih kelabu sisa hujan semalam. Udara terasa lembap, dan halaman rumah Pramasta tampak lebih sunyi dari biasanya. Di dapur, Ayu sedang menuang teh ke dua cangkir ketika Pramasta turun dari lantai atas. Kemejanya sudah rapi, rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Ia tampak seperti pria yang siap pergi bekerja—meski wajahnya jelas lebih serius dari biasanya. Dimas juga sudah berada di ruang makan, baru saja keluar dari kamar tamu setelah memastikan Selvi kembali tertidur. “Dia akhirnya tidur lagi,” kata Dimas pelan sambil duduk di kursi. Ayu mengangguk. “Syukurlah.” Pramasta menarik kursi dan duduk di depan mereka. “Kita harus bergerak hari ini.” Dimas langsung mengerti maksudnya. “Orang tua Selvi.” Pramasta menganggu

