Bab 98 Pamit

1224 Kata

Mobil hitam itu akhirnya memasuki halaman rumah Pramasta. Lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya lembut di jalan setapak yang masih sedikit basah oleh hujan sore tadi. Udara malam terasa sejuk, membawa aroma tanah basah yang khas setelah hujan. Dimas mematikan mesin mobil..Suara mesin yang berhenti membuat suasana menjadi lebih sunyi. Hanya terdengar suara serangga malam dan dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin. Keduanya turun hampir bersamaan. Pramasta menutup pintu mobil sambil menatap sekeliling halaman rumahnya sejenak, seolah memastikan semuanya aman. Sementara itu, Dimas berjalan menuju pintu depan dengan langkah cepat, pikirannya masih dipenuhi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Begitu pintu depan dibuka, aroma masakan hangat langsung menyambut mereka. Lampu r

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN