Mobil hitam meluncur di jalan raya yang masih basah, meninggalkan garis air di kaca depan setiap kali wiper bergerak perlahan. Hujan baru saja reda, tetapi langit masih kelabu dan udara terasa dingin. Dimas duduk di kursi penumpang dengan tubuh sedikit condong ke arah jendela. Tatapannya kosong, mengikuti lampu-lampu jalan yang lewat satu per satu. Pikirannya masih terjebak pada percakapan dengan orang tua Selvi beberapa waktu lalu. Ada banyak hal yang belum sempat ia ucapkan. Ada banyak hal yang masih menghantuinya. Pramasta yang mengemudi tetap terlihat tenang seperti biasa. Kedua tangannya menggenggam setir dengan mantap, matanya fokus pada jalan. Namun sesekali ia melirik ke arah Dimas dari sudut matanya, membaca kecemasan yang jelas terpancar dari wajah kakaknya. “Aku ingin kamu

