Sore itu, puskesmas dipenuhi suara langkah, bisik-bisik pasien, dan bunyi peralatan medis yang saling bersahutan. Ayu melangkah ringan, menyapa beberapa pasien yang sudah menunggu, tersenyum sopan pada mereka yang tampak khawatir, dan memeriksa jadwal dokter serta rekan-rekannya. Suasana tampak biasa, profesional, dan aman. Tidak ada hal yang aneh—setidaknya sampai tatapannya menangkap sosok seorang pria muda yang berdiri di sudut ruang tunggu, tampak sedikit canggung. Ayu menoleh, menepuk ringan tangan yang baru saja ia gunakan untuk menata berkas, dan menatapnya sekilas. Pria itu tampak normal dengan pakaian sederhana, masker setengah menutupi wajah, tas ransel kecil tergantung di bahu. Namun ada sesuatu di matanya yang membuat Ayu berhenti sejenak. Tatapan itu tajam, tapi bukan tajam

