Malam itu puskesmas masih ramai, meski sebagian pasien sudah pulang. Lampu putih menggantung di langit-langit, menyorot ruang pemeriksaan yang steril. Ayu menatap ibu hamil yang terbaring di ranjang kecil, napasnya tersengal, keringat menetes di dahi. Bayinya hampir lahir. Sudah pembukaan ke sembilan. “Tarik napas dalam, Bu. Tenang… Aku ada di sini,” ucapnya lembut, menahan nada panik agar ibu itu tetap fokus. Tangan Ayu sudah dipersiapkan dengan sarung tangan steril, cairan antiseptik, dan kain bersih. “Dari sini… dorong lagi…” Ayu memberi aba-aba pada sang ibu. "Akhgh, saya gak kuat lagi, Bu bidan." "Ibu pasti bisa. Ayo, Bu, semangat!" Ayu berusaha menyemangati. "Arhggh..." Jeritan, tangis, dan bunyi alat pengukur bercampur jadi satu. Detak jantung bayi terpantau di monitor portab

