Selvi masih gemetar ketika Dimas membuka pintu mobil. Lampu teras rumah Pramasta menyala terang, memantulkan bayangan pucat di wajahnya. Napasnya masih tidak teratur. Matanya kosong seperti orang yang baru saja keluar dari mimpi buruk. Dimas mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke samping. “Selvi… kita sudah sampai.” Selvi tidak langsung merespons. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman begitu kuat sampai buku jarinya memutih. “Selvi,” ulang Dimas lebih lembut. Wanita itu menoleh pelan. Matanya merah dan sembab. “Ini… rumah siapa?” “Rumah adikku. Pramasta.” Selvi tampak ragu. “Aku tidak bisa pulang ke rumah, Dimas. Jangan berbohong,” bisiknya cepat. “Aku tahu. Aku tidak berbohong. Ini rumah Pramasta.” “Jangan ke apartemenku… jangan ke sana. Itu tidak aman.” Dimas mengangguk. “

