Lampu parkiran rumah sakit sudah mulai redup ketika Selvi keluar dari pintu samping gedung utama. Jam tangannya menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin tubuhnya saja yang masih lemah setelah demam dua hari terakhir. Ia memeluk tas kerjanya erat di depan d**a. Parkiran tidak sepenuhnya sepi, tapi cukup lengang. Beberapa mobil dokter masih terparkir. Suara mesin ambulans terdengar jauh di sisi lain gedung. Selvi berhenti di dekat tiang lampu. Dimas bilang dia akan datang menjemput setelah menyelesaikan urusannya dengan Pramasta. “Sepuluh menit lagi,” gumamnya pelan. Ia menghela napas. Hari ini melelahkan. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi pikirannya jauh lebih kacau daripada fisiknya. Sejak Dimas menyebut nama dokter Ar

