Beberapa jam sebelumnya. Gedung kantor Pramasta berdiri di tengah kawasan bisnis yang ramai. Dinding kaca memantulkan cahaya matahari sore, sementara lalu lalang kendaraan di jalan utama terdengar seperti dengung jauh dari dalam ruangan. Di lantai atas, ruang kerja Pramasta terasa jauh lebih sunyi. Pramasta sedang berdiri di depan jendela besar ketika pintu ruangannya diketuk. Tok. Tok. "Pak, saya Rani." "Ada apa, Mbak?" "Ada tamu untuk anda, Pak." “Bawa masuk.” Pintu terbuka pelan. Pramasta menoleh—dan langsung berhenti bergerak. Dimas. Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap. Selama dua tahun Pramasta membangun perusahaannya sendiri, kakaknya hampir tidak pernah datang ke kantor ini. Bahkan ayah mereka pun jarang menyinggung bisnisnya secara langsung. Jadi melihat Dimas ber

