Demam Selvi sudah turun ketika pagi datang. Cahaya matahari yang menyusup dari sela tirai membuat matanya perlahan terbuka. Kepalanya masih terasa berat, tetapi tubuhnya jauh lebih ringan dibanding semalam. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Apartemen itu sunyi. Ibunya sudah pulang lebih awal setelah memastikan kondisinya stabil. Di meja ruang tamu masih ada semangkuk bubur yang semalam dibelikan Dimas. Bubur itu sudah dingin, tapi entah kenapa Selvi merasa sedikit hangat mengingat perhatian pria itu. Ia duduk di sofa sambil menatap ponselnya. Layar hitam. Selvi menyalakan ponsel itu dengan tangan sedikit gemetar. Beberapa pesan masuk bermunculan dari rumah sakit, perawat, bahkan dari bagian administrasi. Ia membaca semuanya perlahan. Tiga hari. Sudah tiga

