Makan malam itu berlangsung di ruang makan keluarga. Meja sudah ditata dengan rapi, harum dari bunga segar di vas, dan lampu gantung yang menebar cahaya hangat. Suasana seharusnya nyaman, tapi bagi Selvi, setiap detik terasa seperti medan pertempuran yang harus dilewati dengan senyum tipis dan gerakan terkendali. Dimas duduk di sisi Selvi, jarak mereka cukup dekat. Dimas bahkan menggenggam erat Selvi sekalipun Selvi tidak membalasnya. Ayah dan ibu Selvi menatap dari seberang meja dengan tatapan tenang, menunggu “penampilan” sempurna putri mereka. Ayah Pramasta dan Dimas, meski tak hadir, menjadi bayangan yang selalu menekan dalam benak Selvi—strategi, masa depan, kesempurnaan. Bagaimanapun, tujuan Dimas disetujui sebagai menantu adalah karena siapa ayahnya. Selvi menata napas, menatap

