Mobil Selvi berhenti di depan villa terpencil di pinggir kota saat langit masih gelap kebiruan. Tempat itu sunyi. Terlalu sunyi untuk sebuah hunian. Gerbang besi terbuka perlahan setelah ia menekan kode. Tidak ada penjaga, tetangga dekat atau saksi. Namun, Selvi selalu memastikan semua kebutuhan di dalamnya terpenuhi. Apalagi dia adalah seorang dokter. Dia bisa mencoba yang terbaik. Tidak boleh ada yang menganggu duaninya. Begitulah pikirannya. Selvi mematikan mesin, tapi tidak langsung turun. Tangannya masih mencengkeram setir. Ada rasa bersalah yang menekan dadanya — bukan karena Dimas. Melainkan karena harus meninggalkan seseorang sendirian lagi setelah berjuang bertemu sampai seperti ini. Setelah menata pikirannya selama beberapa menit, akhirnya ia turun. Dia berusaha untuk membiar

