Dihalangi untuk melampiaskan kemarahannya ke anaknya sendiri membuat Lena makin tantrum. Terhuyung ke belakang, matanya menatap nyalang Al yang mematung dengan senyum getirnya. Entah apa yang salah di otaknya, hingga Lena mengartikan senyum anaknya itu sebagai cemoohan akan keadaannya yang memalukan sekarang. Tangannya mengepal, mendelik bengis dengan tubuh gemetar. Mereka yang sedang pecah fokus antara trenyuh dengan kondisi Al dan muak akan kelakuan Lena hanya terpaku. “Apa kamu bodoh?! Kenapa hanya diam dipukuli oleh perempuan gila seperti dia?! Lihat mukamu! Apa itu juga ulahnya? Jawab! Jangan hanya tertawa, sialan! Ini bahkan sama sekali tidak lucu!” teriak Daren mencengkram kemeja Al. Namun, tetap tidak sepatah kata keluar dari mulut Al. Dia masih tertawa menatap mamanya yang sep