56. The Next Night

1529 Kata

Aku berharap waktu berjalan lamban. Selagi denganmu, dengan kondisi sebaik ini, kuharap berlangsung lama. Sampai sini kamu paham, kan? . . Nggak mau bangun. Enak. Begini saja terus boleh, tidak? Tidur berpelukan. Eh, apa cuma Daaron yang meluk? "Sudah pagi." Dikaranya berontak. Daaron tahu, kok, ini sudah pagi. Dan itu adalah pagi pertama mereka setelah ijab sah. "Salat dulu." Benar, subuh. Daaron pun melepas dekapannya, membiarkan Dikara terbebas. Secara perlahan kelopak mata Daaron terbuka, dia mengerjap-ngerjap, pun menguap. Di sisi lain, Dikara sudah bangkit terduduk. Meraih karet rambut untuk mengikat. Melihat gerakan itu, kok, Daaron terpancing ingin menerkam, ya? Dikara tampak seksi bahkan hanya sekadar ganti posisi dari duduk ke berdiri. Aduh, apalagi saat berjalan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN