Senua Orang Pernah Tidak Baik-Baik Saja

1044 Kata
Do Yun mengundang mereka bukan untuk menyaksikan kekalahan dirinya. Do Yun merasa sangat malu. Apalagi saat stik drumnya patah dia tidak sanggup melanjutkan permainan drumnya. Padahal bisa saja dia mengabaikannya dan mengambil stik drum yang baru sebelum terlambat. Rasa sesal benar –benar memenuhi kepalanya. Hilang sudah kesempatan bisa memberikan uang pada Nam Joon Woo. Do Yun turun dari panggung dengan langkah gontai meski setelah teriakan Aeyong tadi orang-orang turut menghiburnya, namun ini kompetisi. Do Yun harus tampil sempurna dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun jika dia ingin menang. Rasanya dia tidak punya keberanian untuk mengangkat wajahnya di hadapan orang-orang yang dia sayang. Harusnya dia lebih berhati-hati sebelum memulai tadi. “Do Yun, kau tampil dnegan baik, jangan pikirkan itu,” Sambut Hain dengan hangat. Aeyong pun langsung menggenggam tangan Do Yun. “Tidak apa-apa kau sudah melakukan yang terbaik. Kau lihat tadi semua orang terpesona dengan penampilanmu, aku yakin kau bakal trending di Naver hari ini,” kata Aeyong. Wajah Do yun bukannya senang tapi malah bertambah murung. “Maksudku bukan trending karena stik drummu patah namun karena kau tampil dengan baik hari ini,” Aeyong langsung meralat ucapannya begitu tahu bahwa Do yun salah paham dengan apa yang dia maksud. Do Yun tidak berkomentar sepatah kata pun. Sementara itu Aeyong harus segera kembali ke tempat kerja dia tadi membolos beberapa jam dan bilang keluar meeting dengan klien jadi dia harus segera kembali ke kantor. “Aku harus pergi. Do Yun jangan sedih begitu, aku akan membelikanmu daging nanti malam, jangan sedih pokoknya,” gumam Aeyong. Do Yun mengangguk dan berusaha tersenyum sebisa mungkin, “Terima kasih sudah datang, Nuna,” kata Do Yun sambil melambaikan tangan. “Sepertinya aku juga harus balik ke klinik, maafkan aku Do Yun tidak dapat menghiburmu. Jika kau butuh bantuanku jangan sungkan meneleponku,” kata Hain berpamitan pada Joon Woo dan Do Yun. Do Yun mengangguk. Lelaki itu merasa beruntung di saat dia gagal masih banyak orang yang mendukungnya dan menghiburnya meski Do Yun tak tahu harus menanggapinya bagaimana. “Do Yun kau tidak langsung pulang kan?” Tanya Joon Woo begitu Aeyong dan Hain pergi. Do Yun memang tidak ada rencana apapun hari ini, Do Yun menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu bisakah kau menemaniku minum kopi sekarang. Aku juga akan membelikanmu minuman kesukaanmu,” tukas Joon Woo. Do Yun mengangguk. Dia pun mengikuti langkah Joon Woo memasuki kedai –kedai yang berjajar di festival. Do yun memilih Ice Americano begitu juga dengan Joon Woo. Keduanya kini duduk di sebuah meja yang disediakan oleh pemilik kedai. “Aku tahu perasaanmu, tapi kau jangan terlalu menyalahkan dirimu,” Joon Woo bisa membaca pikiran Do Yun. Lelaki itu pasti sedang menyesali banyak hal. Do Yun terus menguliti kesalahannya sendiri hingga tak sadar raut wajahnya berubah menjadi murung. “Aku seharusnya bisa tampil lebih baik, Paman tapi aku membuat kesalahan,” ungkap Do Yun. Do Yun tidak menunggu sampai pengumuman hadiah selesai karena sudah bisa dipastikan dirinya tidak akan menjadi bagian dari pemenang. Padahal dia sudah membayangkan bisa memberikan uang hasil kompetisi pada Joon Woo, mungkin dia terlalu berharap sehingga dirinya merasa sangat kecewa sekarang. Joon Woo meminum Ice Americano di tangannya, lelaki itu memandang sekeliling sebelum menjawab ucapan Do yun. “Kau lihat orang yang di sana,” Joon Woo menunjuk sekerumunan orang yang berada di depannya. “Apa kau pikir mereka tidak pernah gagal? Tentu saja pernah Do Yun. Terlebih ini penampilan pertamamu di panggung. Wajar saja jika kamu gugup dan juga melakukan kesalahan. Aku dulu juga begitu. Aku sering membuat kesalahan saat tampil dan aku juga merasa bersalah sepertimu. Tapi seriring berjalannya waktu aku sadar semua itu proses. Suatu hari kau pasti bisa berhasil, Do Yun. Ini hanya perkara waktu saja,” Joon Woo memberikan kata-kata hangat pada Do Yun. Apa yang dia bicarakan benar, harusnya Do yun tidak berlarut dalam kegagalannya. “Apa kau mau menonton Lilac tampil?” Tanya Joon woo. Ini sudah satu jam dia mangkir dari pekerjaannya jadi dia harus segera kembali karena setengah jam lagi Lilac bakal tampil. Do Yun sebenarnya ingin sekali menonton Lilac, namun dia tidak punya uang untuk membeli tiketnya. Harga tiketnya lumayan mahal jadi dia tidak sanggup untuk membayar tiket mereka. “Kau tidak perlu membeli tiket,” Kata Joon Woo seolah bisa membaca kekhawatiran Do Yun. Joon Woo menyodorkan sebuah kartu id bertuliskan staff pada Do Yun. Ini kartu free pass yang biasanya dipakai oleh para kru atau staff di festival atau konser. Do Yun selalu kagum melihat seseorang yang memakai tanda nama seperti ini. Makanya dia sangat bangga saat tahu Joon Woo akhirnya bisa mendapat free pass dan bekerja di bidang yang dia sukai lagi. “Aku meminta satu free pass kepada panitia. Aku bilang akan mengajak kenalanku ke belakang panggung dan mereka tidak keberatan akan itu,”kata Joon Woo. “Apa boleh jika aku memakai kartu ini Paman?” Do Yun tampak ragu menerima kartu ini. Dia takut Joon Woo akan terkena masalah karena dirinya. Joon Woo mengelus kepala Do Yun dengan lembut. “Tentu saja boleh Do Yun,” kata Joon Woo. Do Yun merasa terhormat menerima kartu ini, Joon Woo berdiri dari tempat duduknya, dia tidak mau terlambat jadi dia menggandeng tangan Do Yun, “Ayo pergi,” kata Joon Woo. Do Yun menyambut tangan Joon Woo dengan hangat. Rasanya seperti mendapat penghiburan. Lelaki itu dengan antusias mengikuti langkah Joon Woo. Panggung Lilac tidak jauh dari tempat Do Yun berdiri. Mereka harus merlewati beberapa stand merchandise dan tak jauh dari sana tampak sebuah panggung besar yang disiapkan untuk para penampil di festival ini. Bukan hanya penyanyi solo namun para band, girl group maupun boy grup banyak diundang diacara ini. Tak heran jika banyak sekali peminat yang datang ke festival karena dengan hanya membeli satu tiket mereka bisa menyaksikan penampilan banyak artis. Mereka kini memasuki backstage tanpa halangan. Para panitia langsung mempersilakan Joon Woo masuk karena tahu dia adalah staff band Lilac. “Do Yun, kau tunggu di sini ya. Kau bisa melihat Lilac dari sini,” gumam Joon Woo. Do Yun mengangguk. Joon Woo langsung berlari ke arah lima orang yang tengah menunggunya dengan pandangan penuh emosi. Mereka terlihat sangat marah pada Joon Woo. “Maaf karena aku pergi secara tiba-tiba,” gumam Joon Woo memberi salam dan menunduk pada mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN