“Maaf katamu. Kau tidak tahu kau terlambat?”
Do Yun menajamkan pendengarannya. Apa dia tidak salah dengar sekarang? Mereka bicara dalam bahasa banmal? Banmal adalah bicara dengan santai kepada seseorang yang dianggap akrab atau yang rentang usianya sama atau masih muda. Sementara jika seseorang bicara dengan orang yang lebih tua mereka seharusnya tidak menggunakan bahasa banmal, namun kali ini Do Yun mendengar mereka bicara dengan bahasa banmal dan cukup kasar pada Joon Woo.
“Jika tidak sanggup bekerja mending kau mundur saja,” kata salah satu dari mereka. Gila! Do Yun pikir mereka adalah anak-anak baik seperti image yang mereka tampilkan di TV namun mereka sungguh tidak sopan dan kurang ajar. Bahkan ada salah satu dari mereka yang bicara dengan nada yang sangat kasar. Staff yang ada di sekitar mereka tampak tak acuh seolah ini adalah hal biasa mereka.
“Aku akan bekerja lebih baik,” kata Joon Woo dengan perasaan bersalah, dia tidak mengelak atau melawan mereka karena Joon Woo tahu dia harus professional. Lilac adalah band yang di tanganinya secara tidak langsung mereka adalah majikan Joon Woo jadi dia harus bersikap hormat pada mereka.
Do Yun menggenggam erat buku-buku jarinya. Dadanya terasa sangat emosi. Dia ingin sekali membela Joon Woo namun sayangnya mereka berlima harus naik ke atas panggung sekarang. Do Yun segera berlari menghampiri Joon Woo. Joon Woo lupa bahwa dia membawa Do Yun hari ini? Dia tidak tahu harus berkata apa.
“Mereka memang selalu begitu. Karena kami sudah akrab jadi wajar mereka bicara banmal padaku,” Bukannya merasa kesal pada mereka Joon Woo justu membela mereka dan menutupi perilaku buruk para anggota band Lilac.
“Apa mereka selalu bersikap seperti ini pada Paman?” Tanya Do Yun. Dia baru pertama kali melihat Joon Woo diperlakukan secara tidak hormat. Rasanya benar-benar tidak menyenangkan. Dia ingin sekali memukul kelima manusia songong itu agar tidak memperlakukan orang lain seenaknya.
Joon Woo menunduk, dari sorot matanya saja Do Yun bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya, “Tidak bisakah paman mundur saja dari pekerjaan ini? Aku punya cukup tabungan, mari kita membuka kedai atau apa, yang penting paman tidak diperlakukan seperti ini,” kata Do Yun.
Seperti kebanyakan lelaki di usianya Do Yun mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai pencuci piring di restoran china, dia menabung uang yang di dapatkannya untuk keperluan di masa mendatang. Do Yun tidak tega Joon Woo diperlakukan tidak hormat seperti ini.
Joon Woo menggeleng, “Aku baik-baik saja, Do Yun. Tolong jangan beri tahu Aeyong tentang masalah ini,” sebagai seorang ayah Joon Woo tidak ingin Aeyong tahu bahwa dia diperlakukan dengan tidak hormat seperti ini. Aeyong pasti akan mengamuk. Do Yun tak bisa berkata apa-apa. Mendadak dia hilang respect kepada para anggota band Lilac. Dia tidak sebaik yang orang kira. Do Yun memandang hapenya dengan perasaan galau, “Jika sekali lagi mereka melakukan ini pada Paman aku tidak akan tinggal diam,” lirih Do Yun dengan nada yang bisa didengar oleh Joon Woo.
“Kau bicara apa, Do Yun?”
Do Yun kaget lalu menggeleng. “Tidak ada, Paman lanjutkan saja kerjanya,” kata Do Yun memilih kembali ke tempat duduknya dan memilih berkutat dengan hapenya daripada melihat penampilan kelima orang b******k tersebut di atas panggung.
Do yun memilih bermain League of Legend di hapenya daripad aharus menyaksikan penampilan Lilac. Joon Woo melirik ke arah Do Yun di sela-sela pekerjaannya, bukannya memberikan penghiburan pada anak itu malah Joon Woo membuat anak itu semakin kesal. Joon Woo tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah konser selesai Do yun tak langsung pulang. Joon Woo harus membantu para staff membawakan berbagai perlengkapan band ke mobil. Do Yun pun turut membantu pamannya dalam diam.
“Maaf aku malah merepotkanmu, Do Yun,” kata Joon Woo sambil merapikan kabel dan memasukkannya ke dalam tempatnya. Do Yun menggeleng. Mungkin jika Do Yun tidak menyaksikan perilaku buruk anggota band Lilac sebelumnya mungkin dia akan menikmati permainan kelima orang tersebut.
“Tidak apa-apa Paman, aku tidak merasa direpotkan,” kata Do yun. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Di depannya ada kelima member Lilac. Sungguh sesuatu yang sebenarnya sangat Do Yun benci sekarang. Namun mereka tidak dapat menghindar, Joon Woo membaca perubahan wajah Do Yun, “Mereka sebenarnya adalah anak-anak baik,” kata Joon Woo, “hanya saja memang begitu kalau lagi kesal,” Joon Woo tetap saja membela band itu meski mereka sudah membentaknya.
“Kau tahu Joon Woo Ahjussi memang tidak becus bekerja. Aku akan meminta manager mengganti teknisi yang baru.”
Baru saja dipuji oleh Joon Woo, kelima manusia rubah di depannya menunjukkan wujud aslinya. Bisa-bisanya mereka membicarakan Joon Woo padahal Joon Woo ada di belakang mereka. Sepertinya mereka agar Joon Woo mendengarnya. Joon Woo berpura-pura tidak mendengarnya sementara Do Yun sudah menggenggam erat jemari tangannya karena sangat kesal mendengarnya.
“Jangan didengarkan Do Yun, aku tidak apa-apa,” sekali lagi Joon Woo bersikap lapang d**a. Sementara Do Yun menahan niatan untuk tidak memukul mereka.
“Menyebalkan sekali memang mukanya. Padahal cuma mantan anak band doang songong banget. Mana tadi dia main kabur aja saat habis rehearseal.” Imbuh yang lainnya. Entah dendam apa yang tersembunyi di hati mereka. Kelimanya tampak sangat membenci Joon Woo tanpa alasan yang masuk akal.
“Aku juga sudah meminta manager menggantinya namun kata manager dia adalah teknisi terbaik saat ini. Menyebalkan sekali. Sejak awal aku tidak suka dengan sikapnya,” kata yang lain. Keempatnya tidak ada yang berpihak pada Joon Wo, hanya satu orang yang memilih diam dan tak bicara. Mereka sangat membenci Joon Woo namun mereka tidak bisa memecat Joon Woo begitu saja karena Joon Woo terikat kontrak dengan perusahaan mereka dan hanya dengan kesepakatan dua belah pihak Joon Woo bisa berhenti dari pekerjaannya. Jadi Joon Woo merasa tidak masalah diperlakukan dengan baik asal dia masih bisa bekerja di perusahaan mereka.
“Dasar b******k! Kau pikir kau yang terbaik apa. Dasar manusia buruk tidak tahu diri,” kata Do Yun dalam hati. Dia masih menahan diri karena tidak mau membuat pamannya dalam masalah.
“Apa kita bikin petisi saja untuk mengusir si tua Bangka Nam Joon Woo itu, aku sudah benar-benar muak dengannya,” kata mereka . Kelimanya langsung sepakat.
Tak berapa lama terdengar suara pukulan. Seseorang menerjang salah satu member Lilac dan membuatnya tersungkur ke tanah.
“Apa kau bilang b******k! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu tentang ayahku. Apa kau mau mati!”
Pandangan Do Yun dan Joon Woo langsung tertuju pada seseorang yang menatap kelima member dengan tatapan emosi.
“Aeyong?” Gumam Joon Woo dan Do Yun hampir bersamaan.