Bukti yang Tak Terduga

1061 Kata
“Dasar kurang. Siapa sih perempuan jelek ini!” Celetuk salah satu member Lilac. Amarah di kepala Aeyong rasanya ingin meledak saat itu juga. Dia tak peduli jika setelah ini dirinya akan terkena masalah mereka yang membuat dirinya marah terlebih dahulu jadi Aeyong tidak akan membiarkan mereka menghina ayahnya begitu saja. “Apa kau bilang! Cepat katakan sekali lagi aku akan menghabisimu,” teriak Aeyong dengan sangat kesal. “Nuna, sudahlah. Tolong jangan lakukan itu,” pinta Do Yun. Do Yun dan Joon Woo berusaha memegang kedua tangan Aeyong meski perempuan ini memberontak. “Aeyong, sudah jangan bikin masalah lagi. Tolong maafkan anak saya,” Joon Woo memohon pada kelima member Lilac. Hati Aeyong terasa sangat sakit belihat Joon Woo harus memohon pada kelima member Lilac. Rasanya dia ingin mencabik-cabik mereka saat ini juga. Mereka semua layak mendapatkan pukulan dari Aeyong. Tampang ganteng tapi attitude nol buat apa? “Kami tidak akan tinggal diam begitu saja, kami akan menuntut kalian,” ancam salah satu member Lilac. “Tuntut saja kami tidak takut,” Tantang Aeyong. Perempuan itu tidak akan mengalah kali ini. Lebih baik dia dituntut daripada harus memohon pada kelima orang b******k itu. Para member Lilac benar-benar melaporkan Aeyong ke kantor polisi. Joon Woo dalam masalah sekarang. Jika seperti ini Joon Woo pasti akan ditegur oleh perusahaan dan dia harus bersiap akan kemungkinan terburuk kehilangan pekerjaan yang dia sukai. “Apa! Kau bilang aku yang memulai duluan. Dasar b******k! Kau duluan yang menghina ayahku jika kau lupa. Apa karena dia pegawai kalian terus kalian bisa seenaknya bicara tentang ayahku. Di depannya pula. Dasar tidak punya sopan santun!” Teriak Aeyong tidak terima setelah mendengar tuduhan yang diajukan oleh para member Lilac. “Dasar perempuan tidak tahu diri. Kau jelas-jelas yang mendorongku dari belakang,” gumam sang member yang berambut pirang tak terima dengan perkataan Aeyong. “Kau saja yang lemah. Kakimu pasti terbuat dari marsmellow ya? Lembek sekali baru kudorong gitu aja jatuh,” ejek Aeyong. Perempuan itu benar-benar tangguh. Dia tidak mau menerima tuduhan mereka begitu saja. Aeyong merasa percaya diri bahwa dirinya bisa menang melawan mereka. “Aeyong sudahlah, lebih baik kita berdamai saja dengan mereka,” kata Joon Woo mencoba menengahi. “Appa aku tidak akan berdamai dengan kelima orang b******k ini. Mereka harus diberi pelajaran. Apa kalian mau kubeberkan kelakuan mengerikan ini di internet. Berani-beraninya mereka menghina Appa. Akan kupastikan karir kalian hancur dan membayar semua ini,” ancam Aeyong tidak main-main. Aeyong pikir dengan mengancam mereka para member Lilac akan mengalah dan meminta maaf pada ayahnya namun mereka malah tersenyum dengan wajah menyebalkan. “Apa kau punya bukti tentang apa yang kami lakukan? Tidak bukan. Makanya jangan songong. Modal bicara saja apa kau pikir bisa memenangkan kasus ini?” Ejek mereka seolah mereka sudah menang dari kasus ini. Aeyong seperti mendapat pukulan yang keras. Memang dia sedikit gegabah. Harusnya perempuan itu bisa menahan emosinya. Namun anak mana yang tahan dengan semua itu jika mendengar secara langsung ayahnya dihina. Aeyong tidak bisa tahan dengan semua itu. Do Yun dari tadi hanya diam memantau keadaan, Dia belum berani bicara apa-apa karena tak tahu harus bagaimana. “Aeyong sudahlah, mari berdamai saja,” kata Joon Woo. Aeyong tidak akan mendengarkan perkataan ayahnya terkadang dia memang keras kepala jika sudah memutuskan semua itu. “Siapa bilang kita tidak punya bukti?” Do Yun yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Tatapannya benar-benar dingin seolah dia siap membunuh siapa yang ada di sekitarnya. “Apa maksudmu, Do Yun?” Tanya Aeyong tidak mengerti. Do Yun sudah muak dengan semua yang dilihatnya. Harusnya tadi dia yang menggantikan Aeyong memukul kelima lelaki b******k tersebut. Tapi dia terlalu pengecut dan tak berani melakukannya karena tidak ingin membuat Joon Woo terlibat masalah. Do Yun merogoh kantong celananya. Dia mengeluarkan ponsel miliknya dan menyodorkannya kepada polisi yang ada di hadapannya. Sang polisi memutar video yang ada di hape Do Yun. Sebuah bukti yang cukup membuat para member Lilac diam. Aeyong rasanya ingin memeluk Do Yun saat itu juga. Do Yun tidak sebodoh itu, saat di backstage dia diam-diam merekam perlakukan kasar para member Lilac pada Joon Woo. Bukan hanya memerintah Joon Woo mereka kadang juga mengejek dan memukul Joon Woo. Do Yun hampir lepas kendali sejak mereka berada di atas panggung, namun dia tidak ingin gegabah. Di saat itu juga lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan merekam semua perlakuan buruk yang diterima Joon Woo. “Kalian benar-benar sampah,” teriak Aeyong semakin tidak terima setelah melihat video yang ada di meja polisi tersebut, “Mari kita sebarkan video ini di internet saja biar karir mereka hancur,” gumam Aeyong. Do Yun tampak setuju dengan itu tapi Joon Woo tidak, “Sudahlah jangan dibesar-besarkan. Aku baik-baik saja kok, aku tahu mereka bersikap seperti itu karena memang sudah tugasku melayani mereka,” kata Joon Woo berusaha untuk membuat masalah ini tidak melebar atau pergi terlalu jauh. Para member Lilac merasa sangat tidak terima. Mereka bilang bukti itu tidak sah karena diambil diam-diam lalu dengan kasarnya seorang member mengambil ponsel Do Yun dan melemparkannya ke lantai mereka bahkan mengambil memori card miliknya. “Apa-apaan kau? Pak Polisi kau lihat sendiri kan? Harusnya kau tidak membiarkan kelima orang b******k ini. Kalian harus menghukumnya. “ Teriak Aeyong pada para member Lilac. Do Yun tampak tenang di kursinya, “Maafkan aku Do Yun, aku akan mengganti hapemu,”kata Joon Woo. Do Yun tersenyum tipis. Sedikit mengerikan karena Do Yun seperti tidak takut dengan mereka berlima dan managernya. Mereka semua licik maka Do Yun pun harus berbuat sesuatu yang lebih licik yang bisa membungkam mereka. “Apa kalian pikir dengan membanting hapeku semua selesai begitu saja?” Do Yun mengangkat sudut bibirnya.”Aku masih punya puluhan salinan video itu di google drive. Apa mau kusebar sekarang? Aku tinggal menelepon temanku saja, dia tahu password akunku. Dan jangan khawatir aku hafal kok nomor mereka,” kata Do Yun dengan wajah dingin namun dia menang telak kali ini. “Jadi bagaimana? Apa kalian lebih memilih karir band kalian hancur? Jika tidak cepat minta maaf kepada pamanku dan jangan lupa kau ganti ponselku, Oh ya aku tidak akan menghapus videoku yang ada di Google Drive sebagai jaminan untuk kalian. Jika kau masih bersikap kasar pada pamanku akan kupastikan video tersebut menjadi trending nomor satu di Naver.” Aeyong menatap Do Yun tidak percaya. Perempuan itu tidak menyangka bahwa Do Yun bisa bersikap seperti itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN