Berpikir Ulang

1074 Kata
Liow benar-benar perhatian dengan Hyunsu. Hyunsu bahkan tidak menyangka bahwa Liow akan memesankan tiket pesawat kelas bisnis untuk Hyunsu. Meski ini bukan hal yang sulit untuk Liow namun rasanya itu hal yang sedikit berlebihan bagi Hyunsu. Liow: Apa kau sudah di pesawat sekarang?’ Hape Hyunsu bergetar karena pesan dari Liow.tak ingin membuat Liow menunggu Hyunsu langsung membalas pesan dari Liow. Hyunsu: Aku sudah di bandara. Pesawatku berangkat setengah jam lagi. Hyung, kenapa kau membelikanku tiket pesawat semahal ini. Liow: Kenapa? Apa kursinya tidak nyaman? Atau kau mau bertukar tempat duduk? Hyunsu: Tidak. Hanya saja ini sedikit berlebihan menurutku. Liow: Tidak apa-apa. Aku hanya bisa membantu ini. Semoga Bibi Jung baik-baik saja. Sampaikan salamku padanya. Hyunsu: Iya. Aku masuk ke pesawat dulu Hyunsu segera masuk ke pesawat. Meski dia benar-benar kagum dengan kelas bisnis di pesawat ini namun rasanya Hyunsu tidak bisa menikmati perjalanannya sama sekali. Pikirannya hanya tertuju pada Bibi Jung. Dia harap Bibi Jung akan baik-baik saja. Satu jam kemudian pesawat yang Hyunsu tumpangi mendarat di Busan. Begitu sampai di Busan dia langsung naik taksi dan menuju ke rumah sakit tempat Bibi Jung dirawat. Setelah bertanya di ruang informasi, Hyunsu segera menuju ke ruangan yang dituju. Di depan ruangan tengah berdiri seorang perempuan paruh baya yang seperti menunggu kedatangannya. Dia langsung berdiri begitu menyadari kehadiran Hyunsu menuju ruangan itu. “Hyunsu ya?” Hyunsu mengangguk, “Apa kau Bibi Eun Ju?” tanya Hyunsu. Perempuan itu mengangguk. Perempuan ini yang menjaga Bibi Jung selama beberapa jam di sini. “Maaf aku merepotkanmu,” kata Hyunsu dengan perasaan tidak enak. Bibi Jung hanya tinggal sendiri di Busan. Anaknya sekolah di luar negeri jadi tidak bisa mengurus Bibi Jung saat ini jadi dia hanya tinggal sendirian. Bibi Jung sangat baik kepada tetangganya. Terkadang dia memberikan makanan gratis kepada pengunjung ketika hari ulang tahun anaknya. “Apa yang terjadi terhadap Bibi Jung?” Hyunsu mengajak Bibi Eun Ju duduk dan mulai bicara. Bibi Eun Ju tampak lelah, mungkin karena dia sudah menjaga Bibi Jung di sini seharian. “Aku juga tidak tahu. Tadi siang aku datang ke rumah Bibi Jung. Seharian ini kedai Bibi Jung tutup. Tidak biasanya Bibi Jung telat membuka kedai. Hampir setiap hari kedainya buka. Lalu aku datang ke rumahnya. Saat aku datang ke sana rumah Bibi Jung dalam keadaan terbuka. Aku berjalan masuk dan mendapati Bibi Jung sudah tergeletak di lantai lalu aku membawanya ke rumah sakit. Aku berusaha mencari nomor telepon keluarga Bibi Jung namun tidak ada, aku hanya menemukan kontakmu saja, maaf jika harus membuatmu jauh-jauh datang ke sini,”kata Bi Eun Ju. Hyunsu menggeleng. “Terima kasih sudah menjaga Bibi Jung.” Hyunsu merogoh kantongannya, “Bibi pasti belum makan, belilah makanan enak dan bibi bisa pulang sekarang untuk beristirahat, aku akan menjaga Bibi Jung,” gumam Hyunsu sambil memberikan sejumlah uang kepada Eun Ju. Perempuan itu menggeleng,” Tidak usah, Hyunsu. Aku membawa uang kok,” kata Eun Ju. Hyunsu tetap memberikan uang itu pada Bi Eun Ju,” Aku harap kau tidak menolaknya Bi. Aku sangat berterima kasih kau menjaga Bibi Jung. Jadi aku mohon terimalah,” kata Hyunsu dengan sopan. Eun Ju akhirnya menerima uang dari Hyunsu dan berpamitan “Do Yun kau keren sekali, aku tidak menyangka kau sekeren itu. Sumpah tadi liat ga sih tampang cengonya mereka. Mereka pantas mendapatkannya,” kata Aeyong dengan puas. Joon Woo hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah Aeyong. Mereka sudah sampai di rumah. Kedua belah pihak memilih beramai. Joon Woo masih boleh bekerja sebagai teknisi mereka sementara para member harus bersikap lebih baik pada Joon Woo. “Nuna, jangan bersikap berlebihan,” Do Yun merasa malu dengan perlakuan Aeyong. Sejak setengah jam yang lalu Do Yun mendapat banyak pujian darinya. Hal itu justru membuat telinga Do Yun memerah karena malu. “Apa Paman baik-baik saja?” Yang Do Yun khawatirkan adalah Joon Woo. Ini pasti bukan pertama kalinya dan Joon Woo pasti menahannya selama ini. Raut wajah Aeyong mendadak berubah muram. Dia tahu pasti tidak mudah membesarkan dua anak sekaligus. “Maafkan aku, Appa aku terlalu gegabah tadi. Maaf juga kalau karenaku Appa jadi susah seperti ini.” Bukan hanya Aeyong yang merasa merepotkan Joon Woo namun Do Yun juga. “Aku juga sudah banyak merepotan Paman,” Do Yun turut merasa bersalah. “Kalian ini, jangan berkata seperti itu kalian tidak pernah merepotkanku,” kata Joon Woo. Lelaki itu sibuk membalik daging di atas panggangan. Mereka berdua kini tengah berada di restoran Barberque. Aeyong benar-benar menepati janjinya. Dia yang mentraktir makanan kali ini. Aeyong menuangkan soju di gelas kecil milik sang Ayah, “Aku harap Appa lebih bahagia mulai sekarang. Jika mereka berbuat onar pada Appa lagi tolong katakan padaku dan Do Yun. Aku akan pastikan mereka tidak mengganggu Appa lagi,” kata Aeyong. Joon Woo mengambil daging yang sudah matang dan mengangsurkannya ke piring Aeyong,”Sudah jangan banyak bicara, cepat makan sekarang nanti keburu dingin.” Setelah mengangsurkan daging ke piring Aeyong kini girilan Joon Woo mengisi piring Do Yun. “Makan yang banyak ya,” kata Joon Woo. Aeyong dan Do Yun mengangguk bersamaan, “Terima kasih makanannya,” kata Aeyong dan Do Yun bersamaan. “Appa, seberapa sering mereka melakukan itu pada Appa?” Aeyong membuka pembicaraan tentang Lilac kembali. Kali ini dalam suasana yang lebih santai. Do Yun menyenggol lengan Aeyong. Dia tidak ingin pamannya sedih lagi karena masalah ini. Tapi Aeyong ingin tahu lebih banyak tentang masalah ini. “Mereka sebenarnya anak-anak yang baik hanya terkadang perusahaan terkadang terlalu memberikan mereka banyak tekanan. Jadi terkadang mereka memperlakukan orang lain dengan sangat kasar. Layaknya seorang idol mereka tidak boleh bicara sembarangan maupun berkata kasar, tapi sebelum menjadi band yang terkenal mereka dulu adalah anak jalanan. Mereka terbiasa dengan kerasnya hidup di jalanan, bahasa mereka juga selalu kasar. Mereka baru debut setahun dan masih belum bersikap lebih baik. Aku cuma bisa berharap mereka akan lebih baik nantinya,” jelas Joon Woo. “Appa selalu membela mereka,” kata Aeyong. “Bukan membela tapi dari segi musik mereka memang berbakat. Tanya saja Do Yun kalau tidak percaya. Andai dia tidak melihat perlakuan kasar mereka padaku mungkin Do Yun akan menjadi fans mereka.” Kata Joon Woo. “Apa benar sebagus itu, Do Yun?” Do Yun tak bisa berbohong. Lelaki itu mengangguk, “Iya bagus hanya saja kelakuan mereka tidak,” jawab Do Yun cuek sambil mengunyah daging di mulutnya. Baru kali ini Joon Woo dan Aeyong melihat sisi lain Do Yun saat kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN