Percakapan Steven dan Dae Jung

1052 Kata
“Davin, kenapa kau makan sedikit sekali, ayo nambah lagi,” Lavi mengambil lauk dan menambahkannya ke piring Dae Jung. Lelaki itu tampak canggung dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Linda menatap mereka dengan tatapan kasihan. Keduanya tengah makan di ruang makan dengan tenang. Tak ada lagi barang yang dibanting selama dua hari ini. Dae Jung belum memutuskan untuk keluar dari rumah ini. Setiap pagi dia harus diam-diam pergi ke sekolah. Dae Jung belum bertemu dengan Stephen, pemilik rumah ini, dia terikat perjanjian untuk tinggal di sini jadi mereka harus memutuskan bersama jika ingin mengakhiri perjanjian ini. Dae Jung memberi isyarat pada Linda bahwa dia baik-baik saja. Dua hari terakhir Dae Jung harus bersikap layaknya dia adalah Davin Peterson. Dae Jung tidak harus berakting karena Linda bilang kepribadiannya mirip dengan Davin. Davin pandai bergaul dengan banyak orang. Dia punya teman yang banyak dan supel. Dia juga sangat menyayangi Lavi. Oleh karena itu Lavi benar-benar terpukul kehilangan Davin. Berbeda dengan Davin, sosok Johnson, anak kedua mereka cukup pendiam. Dia dingin dan sulit di dekati. Johnson berubah semenjak kematian Davin. Semenjak itu Lavi sangat membenci Johnson. Dae Jung mengambil lauk dan menambahkannya ke piring Lavi, “Mama juga harus makan yang banyak,” kata Dae Jung. Lavi menderita depresi. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa putra sulungnya memang sudah meninggal. Baginya Davin masih hidup. Saat pertama kali melihat Dae Jung, Lavi mengira dia adalah Davin. Sorot mata Dae Jung mengingatkan Lavi pada Davin. Dae Jung sudah berpikir akan mengemas barangnya kembali tapi dirinya harus menunggu Stephen dan selama itu Dae Jung harus bersikap layaknya dia adalah Davin. Ini sedikit menyesakkan bagi Dae Jung. Namun Dae Jung juga merasa iba pada Lavi. Dae Jung bisa memahami perasaannya. Melihat Lavi mengingatkannya pada orang tuanya. Lavi terlihat seperti orang normal jika seperti ini namun dia bisa mengamuk dan membanting barang kapan saja. Stephen sedang dalam perjalanan pulang. Dia sedang dalam perjalanan bisnis ke Belgia selama seminggu ini. Stephen sudah mendengar semuanya dari Linda, bahkan Lavi juga meneleponnya. Lelaki itu sangat terkejut. Lavi terlihat sangat bahagia karena mengira Davin kembali.Stephen pun mempercepat kunjungan kerjanya di Belgia, dia harus segera pulang dan bicara dengan Dae Jung. Lelaki itu tidak tega membiarkan Dae Jung terseret dalam masalah ini. “Wah kalian makan enak tidak ajak-ajak ya,” Dae Jung menoleh dan mendapati seorang lelaki dengan wajah putih bersih, iris mata biru dan rambut berwarna Dark Brown tampak berjalan ke arah mereka. Dae Jung langsung berdiri dan bersiap memberi hormat. Lelaki itu bisa nebak bahwa yang di hadapannya adalah Stephen. Lelaki itu bersikap senetral mungkin seolah Dae Jung adalah Davin, dia juga harus ikut berakting demi membahagiakan Lavi. “Kenapa kau lama sekali, Sayang, aku merindukanmu,” Lavi memeluk suaminya dengan manja. Stephen merasa terharu. Ini pertama kalinya Lavi benar-benar sadar dan bisa tersenyum. “Maafkan aku, aku terlambat apa kau menikmati waktumu bersama Davin?” Stephen membalas pelukan Lavi dengan lembut. Dia kemudian memeluk Dae Jung sekilas, lelaki itu berbisik di telinga Dae Jung, “Terima kasih sudah membantuku,” katanya dengan tulus. “Maafkan aku telah melibatkanmu dalam masalah ini,” ujar Stephen dengan penuh rasa sesal. Stephen meminta waktu Dae Jung untuk bicara empat mata. Kini mereka berdua di atas balkon rumah Stephen. Linda membawakan secangkir kopi dan teh mint untuk Dae Jung, lalu perempuan itu kembali ke dapur. Ini pertama kalinya Stephen bertemu dengan Dae Jung. Tentu saja dia merasa bersalah dan seakan memanfaatkan Dae Jung. Semenjak Johnson keluar dari rumah, Lavi tambah kesepian dan sering mengamuk. Dia bahkan tidak mau mendengarkan kata-kata Stephen lagi. Perempuan itu bahkan menolak menjalani pengobatannya. “Tidak apa-apa, ada yang ingin aku bicarakan dengan Tuan Stephen, bolehkah aku tidak tinggal di sini lagi?” tanya Dae Jung tanpa mau basa-basi. Stepehen seperti sudah siap dengan pernyataan Dae Jung terbukti dari sikapnya yang tenang dan juga tidak terkesan kaget dengan ucapannya. “Aku tahu perasaanmu, tapi bolehkah aku meminta bantuanmu, Dae Jung?” Kata Stephen dengan dengan nada sedih. Katakanlah dia memanfaatkan Dae Jung. Sejak awal Stephen tidak tertarik menjadi Host Family, namun saat melihat penawaran untuk menjadi host family Stephen mendadak tertarik. Setiap pagi sebelum berangkat kerja dia selalu melihat Lavi duduk di depan jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Kamarnya selalu berantakan dan pecahan kaca, keramik selalu menjadi hal yang wajar di kamar itu. Stephen mencoba bciarabaik-baik kepada Lavi namun dia selalu tidak mau bicara dengannya. Kedaannya seperti pertama kali dia bertemu dengan Stephen. Perempuan itu membencinya. “Harusnya aku tidak hadir dalam hidup Lavi, aku yang membuatnya menderita seperti ini,” Stephen menghela napas, kemudian dia menceritakan semuanya pada Dae Jung, “Rumah ini terlalu sepi setelah kepergian anakku Johnson dan Davin. Davin meninggal karena kecelakaan sementara Johnson meninggalkan rumah kami karena sesuatu yang tak bisa aku ceritakan.” “Di hari pihak sekolahmu menyodorkan penawarna host family kepada kami aku tidak merasa keberatan jika rumahku ditinggali seseorang lagi. Bahkan mungkin kami bisa menampung dua atau dua orang lagi, tapi aku berpikir untuk menolak permintaan itu. Aku tahu keadaan istriku, dia sering mengamuk dan dia bisa membahayakan orang lain, karena itu aku sempat menolaknya. Namun saat aku melihat fotomu di daftar murid, aku melihat sosok anakku Davin, pandangan matamu sama seperti dirinya. Aku tahu Davin sudah tiada, tapi ketika aku melihatmu aku seperti mendapat harapan baru.” “Tapi aku tidak ingin memanfaatkanmu, aku bermaksud mengirim surat penolakan namun sekretarisku malah salah menjawab dengan kata iya, alhasil kamu sampai di sini. Linda sudah menceritakan semuanya dan aku merasa bersalah karena seolah kami memanfaatkamu, Dae Jung.” Stephen menatap Dae Jung dengan pandangan tulus. Dae Jung seperti terketuk hatinya. Pasti yang dialami Stephen dan Lavi tidak mudah. Dae Jung menjadi berpikir ulang untuk meninggalkan tempat ini, bukan karena dia ingin menjadi sosok Davin namun karena dia tidak sanggup jika melihat Lavi bersedih kembali. “Dae Jung, katakanlah aku egois, tapi maukah kamu tinggal di sini dan membujuk istriku untuk menjalani pengobatan. Di saat keadaannya stabil nanti aku akan memberitahunya pelan-pelan dan kau boleh meninggalkan rumah ini. Aku akan menuruti apapun keinginanmu jika kau mau tinggal di sini.” Daejung merasa dilema. Jika dia meninggalkan rumah ini maka keadaan Lavi pasti akan memburuk tapi apa dia sanggup tinggal di rumah ini sebagai orang lain? Ini tidak mudah bagi Dae Jung, “Kau tidak perlu memikirkan sekarang, kau boleh untuk menjawab tidak sekalipun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN