Hyunsu menatap Bibi Jung yang tengah terlelap di atas ranjang dengan tatapan sedih. Perempuan ini selalu membantu dirinya saat dia dalam keadaan yang sulit. Hyunsu menggenggam tangan Bibi Jung, harusnya dia jangan menyusahkan perempuan ini. Bibi Jung bekerja terlalu keras, dia membuka kedainya hingga larut setelah Hyunsu pindah ke Seoul. Dia bahkan tidak mengambil libur. Hyunsu mendengar itu dari Bibi Eun Ju.
Perempuan itu bahkan menutupi sakit yang dideritanya. Bibi Jung menderita gagal ginjal. Dokter menyarankan untuk mencari pendonor ginjal dan segera melakukan operasi. Biaya untuk operasinya tidak murah. Hyunsu bahkan sudah menghabiskan uang tabungannya untuk membayar biaya rumah sakit Bibi Jung hari ini.
“Kenapa kau harus mengorbankan dirimu, Bibi,” desis Hyunsu dengan nada ingin menahan tangis, Hyunsu butuh tiga puluh juta won jika ingin mengajukan operasi untuk Bibi Jung. Darimana dia dapat uang sebanyak itu. Hyunsu menggigit bibirnya.
Bibi Eun Ju memegang pundak Hyunsu, “Pasti berat bagimu ya, Hyunsu?” Tanya Bi Eun Ju. Hyunsu menggeleng Dia tidak pernah merasa Bibi Jung merepotkannya. Hyunsu menggeleng, “Aku hanya berharap Bibi Jung lekas sembuh,” kata Hyunsu dengan penuh harap.
Bibi Eun Ju membuka tasnya dan mengambil sesuatu di dalamnya. Eun Ju menyerahkan secarik kertas itu pada Hyunsu. Lelaki itu menatap kertas di tangannya yang berisi sederetan angka dengan pandangan penuh tanya. Belum sempat Hyunsu bertanya Eun Ju membuka suaranya, “Itu nomor telpon Da Eun, anak Bibi Jung, aku rasa Da Eun berhak tahu keadaan ibunya. Kau harus menghubunginya,” kata Eun Ju.
Eun Ju benar, keluarga Bibi Jung harus tahu soal ini, Hyunsu pun tidak bisa memutuskan tentang operasi Bibi Jung sendiri. “Baiklah, aku akan menghubunginya, Bi,” kata Hyunsu. Saat itu juga Hyunsu mengambil hape yang ada di tas kecilnya. Dia memasukkan nomor yang diberikan Eun Ju lalu berusaha menghubunginya.
Da Eun merupakan anak Bibi Jung yang bersekolah di Australia. Sudah dua tahun Da Eun tidak menghubungi ibunya. Bahkan dia tidak pernah membalas pesan Bibi Jung. Bibi Jung sengaja membeli salah satu gosiwon di Seoul karena Da Eun bilang selepas dia kuliah dia ingin kerja di Seoul. Bibi Jung sangat menyayangi Da Eun. Setiap sebulan sekali perempuan itu datang ke bandara dan menunggu kedatangan Da Eun meski dia tahu putrinya tidak akan pernah datang. Da Eun seolah sudah melupakan orang tuanya.
“Halo,” Begitu telepon diangkat Hyunsu langsung menyapa seseorang yang berada di seberang sana. Terdengar suara seorang perempuan.
“Ini siapa ya? Apa ini telepon penipuan? Aku akan menutupnya,” kata Da Eun.
“Tunggu, ini bukan penipuan. Apa ini benar nomornya Da Eun anaknya Bibi Jung? Aku Hyunsu, maaf jika aku meneleponmu tiba-tiba, aku ingin mengabari tentang keadaan Bibi Jung padamu,” kata Hyunsu dengan hati-hati. Berharap Da Eun tidak menutup teleponnya. Bi Eun Ju yang berada di samping Hyunsu tampak was-wasmdengan jawaban Da Eun.
Yang Hyunsu bayangkan dia akan mendengar nada khawatir dan pertanyaan tentang Bibi Jung namun Hyunsu malah mendapat u*****n dari Da Eun, “ Aish, perempuan menyebalkan itu lagi,” umpat Da Eun.
“Bibi Jung masuk rumah sakit, apa kau punya waktu untuk diskusi sebentar denganku. Bibi Jung harus segera dioperasi. Kau tidak perlu khawatir aku akan membantu biayanya meski tidak seberapa. Apa kau juga mau membantu, Da Eun-ssi?” Tanya Hyunsu dengan hati-hati.
“Sebelumnya kau siapa? Jangan sok jadi pahlawan.” Kata Da Eun seolah tersinggung dengan kata-kata Hyunsu. Hyunsu sampai lupa memperkenalkan diri, “Aku Hyunsu. Park Hyunsu. Aku tetangganya Bibi Jung.” Jelas Hyunsu dengan hati-hati.
“Jika kau punya uang mending kau tabung saja. Biarkan saja perempuan itu mati. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Sebaiknya kau jangan menggangguku lagi.” Kata Da Eun dengan kasar. Hati Hyunsu terasa sakit mendengarnya. Bibi Jung adalah orang yang baik, bagaimana dia bisa mendapat perlakuan sekasar ini dari anaknya sendiri.
“Tapi kau adalah keluarga Bibi Jung, apa kau tidak peduli dengannya?” Hyunsu berusaha untuk meraih simpati. Perkara uang operasi bisa dicari. Tapi persetujuan operasi Bibi Jung harus ditandatangani oleh keluarganya kecuali jika keluarganya sudah memberi kuasa.
Eun Ju yang mendengarkan pembicaraan itu juga turut sakit hati, dia menarik lengan baju Hyunsu pelan membuat lelaki itu menoleh, dengan lirih dia berbicara, “Sudahlah Hyunsu jangan berdebat dengannya,” Kata Eun Ju.
“Aku tidak butuh nasihatmu, jika kau mau mengurusi perempuan itu silakan saja, aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Jangan pernah meneleponku lagi,” kata Da Eun menutup teleponnya. Hyunsu menghela napas.
“Maafkan aku, Hyunsu. Harusnya aku tidak memintamu menelepon Da Eun,” sesal Eun Ju.
“Aku tidak apa-apa. Bi. Mungkin Da Eun sedang ada masalah,” kata Hyunsu mencoba memahami Da Eun, Tapi Eun Ju malah menggelengkan kepala. “Da Eun memang seperti itu, Hyunsu. Padahal Bibi Jung sudah membiayai sekolahnya dan bekerja keras tapi Da Eun hanya bisa memikirkan dirinya sendiri,” kata Eun Ju.
Beberapa kali Bibi Jung memang sempat menghubungi Da Eun tapi sama seperti yang Hyunsu dapatkan Da Eun juga bersikap kasar pada Bibi Jung, perempuan itu bahkan tidak segan melontarkan kata-k********r pada ibunya sendiri. Eun Ju sampai geleng-geleng kepala melihatnya.
“Aku benar-benar kasihan sama Jung, dia benar-benar perempuan yang baik tapi anaknya benar-benar tidak tahu diri,”curhat Eun Ju dengan penuh emosi.
“Apa kau akan menyetujui operasi Bibi Jung, Hyunsu?” Tanya Eun Ju. Dokter butuh persetujuan keluarga Bibi Jung dan uang untuk biaya operasinya dengan cepat. “Jika iya kau akan dapat uang dari mana?” kata Bi Eun Ju dengan tatapan sedih. Hyunsu harus menanggung semuanya padahal dia bukan keluarga Bibi Jung, tapi lelaki itu sangat menyayanginya seperti keluarganya sendiri.
Belum sempat Hyunsu menjawab, ponselnya bergetar. Hyunsu memandang layar hapenya, sebuah panggilan dari Liow. Seperti jawaban yang terbit tiba-tiba, Hyunsu sepertinya mendapat jawaban tentang pertanyaan Eun Ju. Hyunsu memberikan isyarat pada Bibi Eun Ju untuk mengangkat telepon dan perempuan itu mengangguk.
“Halo, Hyung,” jawab Hyunsu begitu telepon tersambung.
“Bagaimana keadaan Bibi Jung . Apa dia baik-baik saja?” Tanya Liow tampak khawatir. Dia menelepon untuk menanyakan keadaan Bibi Jung.
“Eum, dia baik. Hyung ayo kita lakukan bersama,” kata Hyunsu dengan nada datar. Liow yang berada di seberang sana tampak bingung dengan kata-kata Hyunsu.
“Apa maksudmu?” Tanya Liow.
“Ayo kita duet. Tawaran itu masih berlaku kan?” Kata Hyunsu yang membuat Liow terkejut.