Sampai sekarang Ilsung tidak menemukan alasan kenapa Harin sangat membenci Tae Joon, lelaki itu bahkan harus sembunyi-sembunyi untuk latihan piano. Tentu saja dia harus menyembunyikan ini dari Harin atau perang dunia akan terjadi.
“Dari mana saja kau?”
Lagi-lagi Harin mendapati Ilsung pulang terlambat ke rumah. Harin tahu jadwal kuliah Ilsung tidak mungkin sepadat itu karena dia baru saja masuk kuliah, namun Ilsung terlihat sangat sibuk.”Kau tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh kan?” Lagi-lagi Harin bertanya seperti itu namun akhirnya Ilsung bisa mengelak. Harin semakin yakin bahwa ada sesuatu yang Ilsung tutupi jadi hari ini dia berencana untuk mengikuti Ilsung.
Diam-diam Harin datang ke kampus Ilsung, menurut informasi yang dia dapatkan Ilsung akan pulang pukul satu, dan benar saja Ilsung keluar pukul satu dari kampusnyaa. Biasanya Ilsung akan pulang naik taksi, namun Harin mengerutkan keningnya ketika Ilsung berjalan kaki keluar dari kampusnya.
“Mau ke mana tuh anak?” Perasaan Harin sudah tidak enak, dia takut jika adiknya terjebak dalam pergaulan bebas atau sesuatu yang akan merugikannya di masa depan. Harin mencoba menjaga jarak agar Ilsung tidak curiga. Matanya tampak waspada. Beruntungnya selama pengintaian Ilsung tampak fokus berjalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.
Setelah berjalan selama sepuluh menit Ilsung mulai memasuki kawasan bangunan sepi. Hanya ada beberapa bangunan kosong dan terbengkalai. Seketika kecurigaan Harin semakin besar, “Apa jangan-jangan dia bergabung dalam geng preman atau apa? Mau apa dia kemari?” Harin semakin bertanya dalam hati. Pikiran-pikiran buruk itu semakin menguasai dirinya.
Ilsung masuk ke dalam bangunan kosong yang terlihat terbengkalai tanpa curiga bahwa dia sedang dibuntuti. Lelaki itu masuk dan berjalan seolah dia sering kemari, “Jika kau melakukan hal yang aneh-aneh akan aku pastikan kau dimarahi eomma dan appa,” kata Harin gemas. Prempuan itu mengambil hape dari sling bagnya lalu bersiap merekam momen yang akan dilihatnya. Ini semua dia lakukan sebagai bukti. Mama papanya harus tahu kelakuan Ilsung di kampus.
Berbeda dengan penampilan luarnya, ruangan ini sangat bersih. Harin mencoba masuk tanpa menimbulkan suara. Harin merasa sedikit heran, rasanya seperti dia masuk ke gedung yang berbeda karena ruangan ini benar-benar bersih dan juga rapi seperti sebuah studio.
Harin tak punya waktu untuk mengamati sekitarnya, dia harus segera mencari Ilsung. Di saat dia tengah sibuk menebak-benak di ruangan yang mana Ilsung berada, denting suara piano berhasil menuntunnya ke arah satu ruangan. Harin membuka pintu dan mengintip dengan hati-hati. Tangan kanannya memegang hape untuk merekam momen di hadapannya.
Pintu terbuka dan Harin tak percaya dengan apa yang dilihatnya, seketika dia emosi. Dia langsung berjalan menghampiri Ilsung dan Tae Joon yang tengah berlatih piano bersama. Tae Joon terlihat tengah mengamati Ilsung dan mengajarinya beberapa nada yang sulit.
“Jadi ini apa yang kau sembunyikan dariku?” Suara Harin terdengar di seluruh penjuru ruangan. Perempuan itu marah besar. Ilsung menelan ludahnya kasar begitu menyadari kehadiran Harin di sana. “Nuna,” gumamnya tanpa sadar langsung berdiri dari tempat duduknya.
“Kenapa kaget? Jadi ini yang kau sembunyikan?” Harin menekankan kembali pertanyaannya. Sebenarnya Ilsung ingin memberitahu ini pada Harin tapi dia harus menunggu waktu yang tepat, karena perempuan itu pasti akan marah besar dan seperti dugaan Ilsung dia memang marah besar sekarang.
“Sedang apa kau di sini? Ini bukan tempatmu,” kata Tae Joon. Lelaki itu menatap Harin tajam dan merasa tidak terima karena sesi mengajarnya menjadi berantakan. Lelaki itu terlihat sangat marah. Rasanya seperti dejavu. Ilsung juga pernah berada di tengah keadaan ini sebelumnya.
“Nuna, kenapa kemari? Aku bisa jelaskan ini semua,” kata Ilsung menghampiri sang kakak dan meraih tangannya, Dia ingin mengajak Harin pergi dari sana namun perempuan itu tampak tidak mau pergi sebelum menumpahkan segala kekesalannya.
“Bukankah sudah kubilang jangan bergaul dengan lelaki ini, kenapa kau tidak mendengarnya?” kata Harin dengan tatapan tidak suka.
“Memangnya apa yang salah denganku. Kenapa kau menilaiku seperti itu?” Tae Joon tidak terima, Harin terkadang suka berkata seenaknya. Dia kadang tak sadar jika menyakiti orang lain.
“Apa kau? Tidak terima?”
Ilsung bingung bagaimana cara memisahkan mereka. Mereka berdua jika sudah bertengkar terlihat sangat mengerikan. Ini kedua kalinya Ilsung terlibat dengan perkelahian mereka. Padahal dia sudah berusaha menarik tangan Harin agar Harin tidak membuat keributan di sini.
“Kau tidak pernah berubah, mulutmu selalu bermasalah.” Tae Joon tidak segan menyuarakan kekesalannya, meski Harin adalah kakaknya Ilsung harusnya dia tidak menghina Tae Joon seperti itu. Harin kini menatap Ilsung. Semua ini berawal dari Ilsung karena dia tidak menuruti kata-kata Harin.
“Aku sudah bilang jika kau ingin mencari guru les piano, cari yang bagus, jangan lelaki b******k ini. Kenapa kau malah belajar darinya dan menyembunyikannya padaku,” sembur Harin. Ilsung jadi merasa bersalah. Lagi-lagi Tae Joon kena semprot sang kakak karena dia tidak suka pada Tae Joon.
“Apa salahnya adikmu belajar dariku. Toh aku juga mengajarinya dengan baik. Kenapa kau bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kau ini sudah dewasa Harin, masih saja membawa masalah di SMA dan tetap dendam padaku.”
Ilsung menarik napasnya. Menarik tangan Harin juga tidak akan menghalangi mereka berantem. “Kau, apa kau bilang!” Harin menggulung lengan kemejanya tanda dia siap bertarung dengan Tae Joon. Sementara Tae Joon tampak bersikap tenang, lelaki itu justru tampak siap dan berjalan ke luar ruangan. “Kalau mau berkelahi sebaiknya di luar, aku tidak mau ruanganku berantakan,” kata Tae Joon. Lelaki itu berjalan ke luar ruangan.
“Kurang ajar, dia pikir aku takut apa?’ kata Harin tidak terima. Harin berjalan ke arah pintu namun kemudian dia menyadari sesuatu. Biasanya Ilsung akan mengejarnya dan menghentikannya namun lelaki itu justru duduk diam di sofa.
“Kenapa kau tidak ikut?” tanya Harin heran. Ilsung sama sekali tidak tertarik dengan pertarungan kakaknya dan Tae Joon.
“Untuk apa? Melihat kalian bertarung? Huh?” Ujar Ilsung sarkastik. “Jika kakak mau bertarung silakan saja aku tidak ikut campur. Silakan saja sampai babak belum aku tidak peduli. Aku lelah. Kalian bertarung saja,” gumam Ilsung meletakkan lengannya di atas kepalanya, dia benar-benar tidak mau ikut campur. Akhirnya Harin keluar ruangan tanpa bicara.
Selama hampir lima menit Ilsung tetap pada posisinya namun dia penasaran apa yang terjadi di luar. Bagaimana jika mereka benar-benar baku hantam dan terluka?
“Ah sial,” Ilsung mengumpat dan akhirnya dia berjalan keluar ruangan. Namun Ilsung sangat menyesal melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Harusnya Ilsung tetap di kursinya saja daripada melihat pemandangan mengelikan ini.