Kemenangan Tidak Semudah Itu

1042 Kata
Do Yun tampak gugup menunggu gilirannya tampil. Dia tidak menyangka bahwa orang yang menyaksikan kompetisi drum akan sebanyak ini. Do Yun mendapatkan nomor urut sebelas dari dua puluh peserta yang tampil. Tangannya benar-benar dingin karena gugup. Do Yun memandang sekitar, Aeyong belum datang, dia ada sedikit pekerjaan sebelum kemari jadi dia mungkin akan sedikit bterlambat. Sementara Nam Joon Woo harus mengurusi band Lilac, tapi dia janji akan berada di sini sebelum Do Yun tampil. Ini pertama kalinya Do Yun tampil di hadapan ratusan orang. Rasa gugup dan panik langsung menjalar di sekujur tubuhnya. Terlebih tinggal lima giliran lagi sebelum dirinya tampil sekarang. “Tarik napas Do Yun dan hembuskan pelan-pelan.” Do Yun mendengar suara seorang perempuan yang terasa familiar di telinganya . Dia menoleh dan mendapati Hain tengah berada di sampingnya. “Hain Nuna? Sedang apa di sini?” Seingat Do Yun dia tidak pernah memberitahu Hain tentang kompetisi drum ini. Do Yun bahkan sudah hampir setahun tidak bertemu Hain karena dia pindah ke Gwangju. Hain merekomendasikan psikolog kenalannya agar Do yun tidak bolak-balik konseling dari Seoul ke Gwangju. “Lama tak jumpa, Do Yun?” Hain mengusap rambut Do Yun dengan penuh kasih sayang. Ini seperti reuni bagi mereka setelah sekian kama. “Aku baik Nuna,” Do Yun menyunggingkan senyum manisnya, “Aku tidak terlambat kan? Aeyong bilang kau ikut kompetisi drum. Wah akhirnya kau mulai bisa meraih mimpimu ya,” tatap Hain pada Do Yun dengan tatapan bangga. Hain benar-benar bangga dengan Do Yun, lelaki itu berhasil lepas dari traumanya sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu. “Tidak kok, Nuna,” kata Do Yun. Hain menepuk pundak Do Yun dan mengalirkan rasa nyaman di pundaknya, “Kau akan melakukannya dengan baik, Do Yun. Jangan pikirkan apapun. Cukup bermain sebisamu,” ujar Hain memberikan kata-kata yang hangat pada Do yun. Do Yun merasa lebih baik meski dia masih gugup. “Maaf aku terlambat,” kata Aeyong yang muncul dengan napas tergesa-gesa. Dia masih menggunakan pakaian kerjanya sebuah blazer dan juga rok selutut serta sepatu flat miliknya. Hain melirik ke arah Aeyong, “Aeyong ya?” Tanyanya pada perempuan di hadapannya. Ini pertama kalinya Aeyong bertemu dengan Hain. Dia hanya mendengar nama Hain dari Do Yun dan juga Joon Woo namun belum pernah bertemu dengannya. Tapi mereka berdua lumayan akrab dan suka bertukar pesan. “Hain Eonni?” Tebak Aeyong yang dengan wajah girang dan langsung berhasil menebak perempuan ini adalah perempuan yang selalu membalas curhatannya bahkan Hain tidak memungut biaya apapun dari Aeyong. Mereka sudah seperti kakak beradik selama ini. Hain mengangguk dan langsung seketika itu juga Aeyong berjalan ke arahnya dan memeluknya. “Eonni, akhirnya aku bisa bertemu denganmu,” kata Aeyong dengan penuh semangat. Hain membalas pelukan dengan pelukan lembut, “Aku senang bisa bertemu denganmu,”ungkap Aeyong. Seketika Hain dan Aeyong terlibat dalam obrolan mereka sendiri. Biasalah cewek kalau ketemu cewek akan seperti itu. Do Yun sejenak merasa dilupakan. Tinggal satu giliran lagi dan setelah ini Do Yun akan tampil. Dari tadi dia mencari keberadaan Joon Woo. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Joon Woo datang sepuluh menit sebelum Do Yun tampil, “Aku tidak terlambat bukan?” Tanya Joon Woo dengan wajah khawatir. “Appa kenapa lama sekali, untung belum terlambat,” kata Aeyong menegur sang ayah. Joon woo harus mengurusi beberapa hal sebelum ke sini. Pekerjaannya sebagai teknisi tidak mudah. Dia harus menunggu Lilac selesai rehearsal dulu baru kemudian dia bisa ke sini. Beruntungnya dia tidak terlambat menyaksikan pertunjukan Do Yun. “Maafkan aku. Hain kau juga datang?” Joon Woo menyapa Hain dengan hangat. Hain mengangguk, “Apa kabar Paman?” Hain memang sering memanggil Joon Woo dengan pangilan Paman. Awalnya dia ingin memanggil dengan sebutan Pak namun panggilan itu terlalu formal jadi dia memilih memanggilnya dengan sebutan paman. “Aku baik,” kata Joon Woo. “Do yun-ssi, silakan naik ke panggung satu menit lagi,” kata salah seorang pengarah acara. Do Yun mengangguk dengan perasaan gugup. “Do Yun kau pasti bisa, kau akan tampil dengan baik. Do Yun Hwaiting,” Aeyong menghujani Do yun dengan kata-kata semangat. “Jangan memaksakan diri, tidak menang tidak apa-apa. Aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik,” kata Joon Woo pada Do Yun. “Jangan gugup Do Yun. Kau bisa melakukannya dengan baik,” Kini giliran Hain yang memberikan semangat pada Do yun. Lelaki itu mengangguk. Beberapa detik setelah itu nama Do Yun dipanggil. Do Yun naik ke atas panggung dengan perasaan gugup. Kini lelaki itu sudah duduk di kursi dan tengah menatap drum di hadapannya. Do Yun benar-benar gugup sekarang dia tak berani menatap penonton. “Do Yun Hwaiting!” Sebuah teriakan mendadak membelah keheningan. Aeyong tidak peduli tentang tatapan orang –orang yang menatapnya aneh. Dia hanya ingin memberikan dukungan pada Do Yun. Do Yun mulai menemukan rasa percaya dirinya. Joon Woo dan Hain tampak was-was menatap Do Yun. Mereka hanya berharap Do Yun tidak mengalami panic attack di atas panggung. Do Yun berusaha untuk berkonsentrasi.Dia tidak boleh melewatkan ketukannya. Do yun memilih lagu Linkin Park - In The end untuk penampilannya. Lagu ini cukup sulit karena Do Yun harus bisa menyelesaikan permainannya dengan baik. Aeyong terlihat sangat bangga dengan Do Yun. Lelaki itu tampil dengan sangat memukai. Joon Woo juga sangat terharu akhirnya anak itu berhasil menunjukkan kemampuannya. “Dia benar-benar hebat,” gumam Joon Woo. “Do Yun berjuang dengan baik,” imbuh Hain yang bangga melihat Do Yun mampu menaklukan ketakutannya sendiri. “Do Yun kamu keren banget!” Aeyong kembali berteriak dan bersorak, bukan hanya Aeyong beberapa penonton lainnya tampak bersorak dan terpukau dengan penampilan Do Yun. Do Yun benar-benar tampil bagus sebelum sesuatu yang buruk terjadi dan membuat Do Yun tidak pernah melupakan hari ini. Do Yun memukul drum di hadapannya dengan stik drum yang cukup keras. Stiknya patah menjadi dua dan Do Yun melewatkan temponya. Lelaki itu mulai panik saat tiba-tiba kakinya berhenti menginjak pedal drum di hadapannya. Smeua orang kini menatapnya dengan tatapan kecewa. Padahal sejak awal dia sudah cukup mendominasi namun endingnya cukup mengecewakan. Rasa takut itu muncul kembali, rasa sesak dan pandangan mengecewakan orang-orang di depannya benar-benar mengintimidasinya. Di saat semua terasa kacau sebuat teriakan memecah keheningan. “Gwenchana gwenchana gwenchana” teriak Aeyong dengan bernada seolah fans yang tengah mendukung idolnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN