“Jadi kamu salah masuk audisi?” Tae Joon sudah bertanya selama dua kali dan lelaki itu masih tidak bisa berhenti tertawa. Ilsung mengangguk lesu. Sementara Harin tidak bisa menertawakan sang adik karena kondisinya masih lemah. Ketiganya tengah berada di kamar Harin sekarang. Tae Joon sempat mengirimkan pesan pada Ilsung bahwa dia tidak bisa mendampingi Ilsung audisi karena kondisi Harin sempat drop tadi. Dia tidak bisa meninggalkan Harin sendirian di rumah.
Ilsung mengambil setoples gummy jelly yang ada di hadapannya lalu mengunyah pelan, kepalanya mengangguk menajwab pertanyaan Tae Joon. Ilsung sudah menceritakan dari awal sampai akhir. Semua ini berawal dari kesalahan Tae Joon. Tae Joon salah mengirim alamat, dia harusnya menulis gedung A tapi dirinya malah menulis gedung B, jadilah Ilsung nyasar ke audisi MX Etntertainment yang kebetulan memang sedang menggelar audisi di sana.
“Kau benar-benar bertemu dengan Hani Lin?” tanya Harin, bukannya prihatin dengan keadaan sang adik yang salah audisi Harin malah tertarik dengan pembicaran Ilsung tentang Hani Lin. Dia mengangguk, wajah Harin langsung berbinar-binar meski perutnya masih terasa nyeri.
“Kenapa kau tidak meminta tanda tangannya untukku,” teriak Harin gemas, meski dia sedang sakit namun dia masih punya tenaga untuk memarahi Ilsung. Harin sudah sejak lama suka dengan Hani Lin, dia merupakan salah satu artis solo wanita yang sangat terkenal di Korea. Setiap kali merilis album, lagu-lagu Hani Lin pasti akan merajai chart Bugs, Melon, Genie dan selalu mendapatkan peringkat pertama di musik show. Selain terkenal dengan suaranya yang tiada tandingan Hani Lin juga memiliki studio dance terkenal yang para dancer di sana sering menjadi backdancer bagi para artis ternama.
“Mana kutahu kalau Nuna suka sama Hani Lin,” celetuk Ilsung tidak terima disalahkan. Sebenarnya Harin tidak bermaksud untuk menyalahkan Ilsung hanya saja dia memang benar-benar ingin bertemu dengan Hani Lin, malah sang adik yang bertemu duluan, “Apa Hani benar-benar secantik itu?”Tanya Harin penasaran, Ilsung yang baru saja memasukkan gummy jelly ke mulutnya mengangguk, “Dia baik banget, yang paling menyeramkan itu Hwang hyung,” curhat Ilsung. Dia masih ingat bagaimana Kim Hwang memandang dirinya. Ilsung belum pernah bertemu dengannya tapi lelaki itu seolah punya dendam kesumat dengan Ilsung. Padahal Ilsung merasa tidak pernah melakukan dosa besar atau pernah merebut kekasih dari Kim Hwang di kehidupan sebelumnya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan? MX Entertainment adalah salah satu agensi yang besar, apa kau akan menerima tawaran mereka?” Tanya Tae Joon. Pihak MX Entertainment sudah mengonfirmasi bahwa Ilsung lolos menjadi salah satu calon personil member band yang akan mereka debutkan.
Kabarnya para trainee hanya akan menjalani masa pelatihan selama enam bulan. MX Entertainment tidak main-main ketika mereka bilang akan mendebutkan band. Ini pertama kalinya mereka mendebutkan band di tengah maraknya girlband maupun boyband yang sukses di Korea. Mereka ingin menjajal sesuatu yang baru. Konsepnya simpel jika berhasil mereka kaan mempertahankan band ini jika gagal maka mereka tinggal membuangnya, mudah bukan? Begitulah cara kerja industri hiburan, tidak ada yang bisa menjamin masa depan orang-orang yang ada di sana.
“Menurut Nuna aku harus bagaimana? Haruskah aku menerima tawaran mereka?” Tanya Ilsung bimbang. Hari ini Ilsung sudah mendapat kontrak sebagai trainee di MX Entertainment namun dia belum menandatanginya. Dia masih bimbang . “Aku rasa kau perlu bicara dengan eomma dan appa, bukankah kau butuh izin dari mereka juga?” ujar Harin memberi saran. Harin benar, dia tidak bisa memutuskan ini sendiri, mau tak mau dia harus bicara dengan orang tuanya untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut.
Lisya tampak terkejut melihat tumpukan kado yang tengah berjajar di ruang tamunya. Perempuan itu baru saja pulang kerja ketika isi rumahnya berubah seperti toko kado dadakan. Dia ruang tamu sudah ada Ara yang tengah menertawakan sang adik.
“Hajoon apa kau berbelanja online lagi?” Tuduh LIsya begitu masuk ke dalam rumah. Hajoon menarik napas, karena tidak suka berbelanja secara langsung Hajoon memang lebih suka berbelanja online tapi kali ini dia tidak berbelanja apa-apa. Semua kotak ini datang begitu saja ke rumahnya.
“Kau saja yang jelaskan Kak, aku pusing,” Hajoon menyenggol tangan Ara namun sang kakak justru menyenggol balik lengan Hajoon, “Kau urus saja sendiri cepat jawab pertanyaa mama sebelum dia marah,” tukas Ara yang sibuk memilah kado di depannya.
“Aku tidak berbelanja online, Ma,” kata Hajoon. Lisya tampak mengamati kotak kado yang beragam yang jumlahnya mungkin ada seratusan. “Lalu apa semua ini, apa Santa datang ke rumah kita dan membawa semua kotak begitu saja?” Lisya butuh penjelasan yang lebih detail namun sayangnya Hajoon sedang malas untuk menjelaskan.
“Mama tidak tahu ya, Hajoon tuh jadi idol sekarang, semua ini kiriman dari penggemarnya,” celetuk Ara. Perempuan itu langsung mendapat pelototan dari sang adik, namun dia tidak menggubrisnya, “bukankah aku mengatakan apa yang sebenarnya,” Ara membela dirinya sendiri.
“Ini apa Hajoon? Apa kau tidak mau menjelaskan pada mama?” Kini giliran Lisya yang mencecar anak laki-lakinya. Hajoon menegakkan duduknya lalu menceritakan semuanya dari awal videonya viral hingga sekarang, Dia bahkan menceritakan ketidaknyamanannya menjadi populer saat ini meski hanya di lingkup kampus saja namun itu tetap tidak mengenakkan. Hajoon hanya ingin belajar dengan nyaman di kampus, lulus lalu kembali ke Amerika dan menikmati kebebasan hidupnya lagi itu cukup. Lisya tidak akan mengizinkan Hajoon tinggal sendiri sebelum dia lulus kuliah . karena itu Hajoon hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang namun siapa sangka dia malah terjebak dalam drama popularitas ini.
“Harusnya kau bahagia dong Hajoon, kau punya banyak fans sekarang, wah mama tidak tahu anak mama sepopuler ini,” ujar Lisya yang tengah duduk di samping Hajoon.
“Apaan sih Ma, aku juga tidak tahu akan seperti ini. Bisakah kita kembalikan kado ini kepada pemiliknya?” Hajoon merasa tidak pantas menerima itu semua karena itu dia ingin mengembalikannya. Ara memukul kening sang adik, “Kau pikir kado ini hanya dikirim dari Seoul saja, lihatlah ini bahkan ada yang dikirim dari Jepang. Sudahlah lebih baik kau terima saja kado ini, aku akan membukakan semua kadonya untukmu, jika ada barang aneh aku akan membuangnya,” gumam Ara bertindak layaknya manager Hajoon sekarang. Hajoon hanya mengangkat bahu dan menyerahkan semuanya pada Ara. Diam-diam Lisya menatap sang anak dengan tatapan kagum, Dia tak menyangka Hajoon punya bakat menyanyi yang luar biasa.