Hajoon tidak suka popularitas, karena dia tahu popularitas hanya sementara dan orang-orang akan mendekatimu dan sok akrab padamu jika kau mendadak populer. Lihat saja sekarang pemandangan apa yang sedang Hajoon lihat di kampus. Lelaki yang mengenakan hoode abu-abu itu bukan seorang mahasiswa yang terkenal sebelumnya. Bahkan keberadaannya diabaikan selama ini.
Park Hajoon ke kampus hanya untuk kuliah, belajar dan pulang ke rumah dengan tenang. Dia hanya punya dua teman kuliah di kampus, mereka berteman juga karena sama-sama introvert dan tidak menyukai keramaian.
“Jadi kau benar-benar Hajoon yang trending kemarin di Naver?”
“Wah ternyata kau tampan sekali?”
“Hajoon apa kau tidak mau menjadi idol? Kenapa kau tidak bilang kalau kau pandai bermain gitar dan juga bernyanyi?”
“Hajoon bisakah kau nyanyikan sebuah lagu untukku?”
Tangan Hajoon gemetar. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Harusnya dia membolos kuliah saja hari ini. Bagaimana mereka bisa tahu bahwa yang di video itu dirinya? Dia bahkan tidak menunjukkan wajahnya saat membuat video tersebut. Hajoon selalu membuat video cover yang hanya menampakkan dirinya sebatas d**a dan selalu menyembunyikan wajahnya.
“Itu bukan aku, mungkin kau salah orang,” elak Hajoon. Hajoon tidak tahu bagaimana mereka bisa tahu bahwa lelaki di video itu adalah dirinya namun dia benar-benar tidak sanggup menghadapi rentetan pertanyaan mereka sekarang.
“Mana mungkin ini bukan kamu. Lihatlah ini hoodie yang sering kau kenakan, bahkan ada name tag milikmu yang terpampang jelas di sini,” salah satu dari temannya menunjukkan sebuah tangkapan layar pada Hajoon. Mata Hajoon membola, “Dari mana kau mendapatkan ini?” Tanya Hajoon dengan pandangan terkejut.
Hajoon tidak tahu bahwa sekarang ini mudah sekali bagi para netizen memperjelas gambar atau video, jadi percuma saja dia berbohong. Harusnya Hajoon menyingkirkan terlebih dahulu hoodie dan kartu mashasiswanya.
Baru-baru ini Hajoon kembali mengupload video cover di youtube miliknya. Bukan untuk pansos atau bagaimana tapi Hajoon hanya ingin mengunggahnya terlepas dari apapun pendapat netijen tentang videonya dia tidak peduli. Video Hajoon kembali trending dan para netizen berpendapat bahwa Hajoon pantas untuk menjadi idol atau penyanyi. Video Hajoon menuai banyak komentar positif. Bahkan banyak diantara netizen yang langsung menjadi penggemar Hajoon.
Tujuan Hajoon mengunggah video cover miliknya adalah ingin berbagi musik yang bagus bagi para pendengar. Namun dia kecolongan kali ini, sekarang Hajoon tidak bisa mengelak lagi.
“Hajoon, hadap sini! Aku akan mengambil fotomu,” seseorang tampak mengarahkan kamera ke arah Hajoon. Hajoon tidak suka difoto apalagi foto yang diambil tanpa izin, namun dia tidak bisa marah kali ini, dia tidak mau bertindak impulsif. Dalam hati dia hanya bisa berdoa bahwa seseorang akan menyelamatkannya sekarang.
“Apa kalian tidak punya kerjaan selain menganggu seseorang!” Sebuah suara menginterupsi orang-orang yang tengah mengerumuni Hajoon. Semua pandangan kini tertuju pada seorang perempuan yang mengenakan rok pendek selutut serta kaos lengan pendek yang cukup ketat yang tengah menatapnya dengan tatapan tidak suka. Beberapa orang tampak menyingkir dari hadapan Hajoon. Hajoon mendongak dan pandangannya bertemu dengan pemilik mata cokelat yang tengah memandangnya dengan tatapan datar.
“Kau! Kenapa kau ada di sini?”
Hajoon menatap Jamie tak percaya. Meski belum sempat berkenalan Hajoon ingat dengan jelas siapa Jamie.Dia adalah perempuan yang pernah menolongnya waktu dia mengalami panic attack dulu. Kau pasti masih ingat kan saat Ara mengerjai Hajoon agar dia mau keluar rumah.Iya, dia gadis yang sama. Hanya saja prempuan itu tampak berbeda. Jamie mengenakan pakaian yang ketat dan lumayan minim. Meski dia membawa Hoodie di tangannya namun pakaiannya terlihat minim untuk ukuran pakaian yang dipakai di kampus. Tanpa sadar Hajoon menilai penampilan Jamie dari atas sampai bawah.
Jamie Jung, salah satu mahasiswi di kampus ini, hanya saja dia jarang berada di kampus karena menjadi trainee di sebuah agensi hiburan Korea. Jamie cukup terkenal dan memiliki banyak penggemar walau dia masih belum debut sampai sekarang. Meski akan menjadi idol, Jamie tidak menjaga imagenya seperti yang lainnya, dia tak segan menunjukkan sifat aslinya, hal itu pulalah yang menyebabkan Jamie sering terkena masalah karena dia bersikap apa adanya dan menjadi dirinya sendiri. Banyak netizen yang menghujatnya bahkan ada yang bilang bahwa Jamie menjalani operasi plastik demi mendapatkan hidung mancung yang dimilikinya.
Jamie seperti mengenal lelaki yang tengah mengenakan kacamata bulat yang berada di tengah kerumunan. Ingatannya terlempar saat dia masih tinggal di California. Namun dia tidak mau menunjukkan bahwa mereka saling kenal.
“Apa kau mengenalnya Hajoon?” Tanya yang lain yang sepertinya tertarik dengan hubungan Jamie dan Hajoon. Jamie langsung cepat tanggap bebeapa diantara mereka tampak tengah merekam percakapan mereka, dia tidak boleh menimbulkan masalah lagi.
“Kami pernah bertemu sebelumnya,” gumam Hajoon dengan tatapan polos. Jamie sudah memberikan kode untuk Hajoon agar lelaki itu tidak mengatakan apapun namun lelaki itu tidak paham kode yang diberikan Jamie.
“Ah, kau penggemarku yang waktu itu kan. Oh My God, terima kasih sudah menjadi pendukungku selama ini. Aku tidak menyangka bahwa kita akan bertemu di sini.”
Wajah Jamie yang semula jutek mendadak tersenyum, tentu saja itu semua akting. Jamie berjalan ke arah Hajoon dan menyapa lelaki itu.
“Apa yang kau bicarakan?” Tanya Hajoon. “Oh ya, aku belum sempat memberikanmu tanda tangan waktu itu, baiklah aku akan memberikannya sekarang,” ucap Jamie dengan nada ramah. Hajoon melongo. Dia tidak pernah meminta tanda tangan seorang Jamie lalu kenapa perempuan ini meracau tidak jelas sekarang.
“Aku tidak ma----“
Duk!
Jamie menendang kaki Hajoon dengan cukup keras. Hajoon mengaduh kesakitan. Kejadian itu sangat cepat, beruntung tidak ada mahasiswa yang melihat Jamie menendang kaki Hajoon. Jamie mengambil spidol Hajoon yang tergeletak di meja. Hajoon memang suka membawa spidol terkadang di saat tidak ada kelas Hajoon suka menggambar doodle untuk mengisi waktu luangnya.
Setelah mengambil pulpen Hajoon tanpa izin, Jamie meraih buku catatan Hajoon dan mencari lembar yang kosong. Hajoon masih sibuk mengusap-usap kakinya yang sakit akibat tendangan Jamie hingga tak sadar perempuan itu sudah membubuhkan tanda tangan di buku catatan Hajoon. Semua orang tampak memusatkan perhatian pada mereka berdua.
“Siapa namamu?” Jamie bertanya pada Hajoon namun Hajoon masih belum menajwabnya. Perempuan itu menyenggol bahu Hajoon. “Aku tanya siapa namamu?” Tanyanya lagi. Hajoon tergagap, refleks dia menjawab pertanyaan Jamie dengan nama lengkap, “Park Hajoon,” kata Hajoon. Jamie meletakkan buku catatan dan pulpen milik Hajoon ke meja lalu dia tersenyum pada Hajoon. “Terima kasih sudah menjadi penggemarku Hajoon,” kata Jamie sambil mengedipkan matanya.
Hajoon kehilangan kata-katanya, dia baru pertama kali melihat gadis sekonyol itu, “Tapi cantik sih,” batin Hajoon sambil tersenyum.