Dae Jung merasa terjebak dalam satu dunia yang mustahil keluar sekarang. Semua orang akan mengenalnya sebagai Davin Peterson, anak sulung dari keluarga Peterson. Tidak ada perasaan senang sama sekali yang Dae Jung rasakan, justru dia merasa terbebani dengan semua ini.
Lavi menggenggam tangan Dae Jung sebelum mengumumkan sesuatu. Dia menarik Dae Jung ke atas panggung. Dae Jung tidak pernah tahu bahwa ini hari pertama Davin diperkenalkan ke publik. Selama ini keluarga Peterson tidak pernah mengumumkannya. Para wartawan berkumpul karena undangan dari Lavi, tentu saja dia tidak ingin menyembunyikan momen bahagia ini dari publik.
“Ma, apa yang akan kau lakukan?” Firasat Dae Jung tidak enak sejak Lavi menyeretnya ke atas panggung. Rasanya dia ingin kabur sekarang juga. Namun mau kabur ke mana ketika semua pandangan kini benar-benar tertuju padanya.
“Mama tidak akan berbuat macam-macam kau tenang saja.” Kata Lavi. Lavi kembali tersenyum ke arah publik dan para wartawan siap membidik momen yang ada di depan sana. “Aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian. Mungkin selama ini kalian bertanya-tanya seperti apa anak sulung kami yang tidak pernah kami perkenalkan ke depan kamera,” kata Lavi.
Lampu flash langsung menyala diiringi bunyi kamera yang membidik momen Lavi di depan sana, “Apa seseorang yang di samping Anda adalah Davin Peterson, Nyonya?” Belum sempat Lavi mengumumkannya, seorang wartawan menyela dengan pertanyaan yang cukup menohok. Lavi terlihat kesal namun dia mencoba menutupinya. Perempuan itu mengangguk, “Iya, ini anak pertamaku, Davin Peterson,” kata Lavi.
Mereka semua tampak terkejut. Dae Jung menggenggam buku-buku jarinya karena dia gugup, benar saja firasatnya. Ini buruk. Dia tidak menyangka akan diperkenalkan sebagai seorang Davin Peterson, sandiwara ini berjalan terlalu jauh, Dae Jung seperti terjebak dan pastinya akan sulit keluar dari sandiwara ini.
Lavi menyenggol Dae Jung untuk memberikan sepatah dua patah kata, Dae Jung maju dengan perasaan gugup luar biasa, dia bisa mendengar suara bisikan orang-orang di sana yang tampak tidak percaya bahwa dia adalah anak dari seorang Lavi dan Stephen. Pasalnya Dae Jung memiliki wajah yang berbeda dengan mereka, ditambah mata sipitnya yang tentu saja berbeda dengan Lavi dan Stephen.
“Selamat malam semuanya, perkenalkan namaku Davin Peterson---“
“Sandiwara macam apa ini!”
Belum sempat Dae Jung melanjutkan sandiwaranya, suara seseorang tampak menginterupsi ucapan Dae Jung. Dae Jung tidak berani mendongak, namun suara itu terdengar sangat familiar. Di sisi lain Stephen tampak menyunggingkan senyumnya. Sepertinya dia berhasil membujuk Johnson untuk turun.
Johnson sebenarnya tidak tertarik pada pesta ini. Dia masih mengenakan pakaian santainya , celana pendek dan kaos kebesarannya saat ini. Lelaki itu sedang keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Di pojok lantai dua terdapat dapur kecil dan kulkas yang memang disediakan untuk Johnson dan Daavin Johnson suka lapar malam – malam jadi Stephen membangun dapur kecil untuk Johnson agar dia tidak perlu ke bawah saat lapar.
Langkah Johnson terhenti saat Lavi menyebutkan nama Davin dan mengumumkannya pada banyak orang. Mendengar Davin disebut jantung Johnson rasanya seperti berhenti, bagaimana bisa orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Lelaki itu lebih terkejut ketika melihat sosok lelaki disamping ibunya yang sedang menyamar sebagai Davin. Johnson berjalan menuruni tangga dan tidak menyangka bahwa lelaki yang ada di hadapannya adalah seseorang yang dia kenal.
Dae Jung masih menunduk tak berani mendongak hingga suara lelaki itu kembali terdengar, “Apa yang kau lakukan di sini, Kang Dae Jung?”
Johnson benar-benar emosi. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Kang Dae Jung setelah sekian lama. Mendengar namanya disebut Dae Jung akhirnya mendogak dan matanya langsung membulat seketika. “Austin, kenapa kau ada di sini?”
Kepalanya rasanya kosong. Bagaimana bisa dia bertemu dengan Austin di sini? Austin Johnson Peterson adalah nama lengkap Austin. Iya, dia adalah teman seasrama Dae Jung selama di High School. Kau tentu masih ingat bagaimana perlakuan dingin Austin pada Dae Jung bukan. Austin adalah anak dari Stephen dan Lavi, tidak ada yang menyangka mereka akan bertemu dalam keadaan seperti ini.
“Berhenti bersikap tidak sopan pada kakakmu, Johnson!” Teriak Lavi tidak suka, “ Kau mengacaukan pestaku, benar-benar anak sialan!” Lavi berkata dengan amarah yang memuncak. Para wartawan kini sibuk memotret pertengkaran antara keluarga Peterson dan bersiap merilis berita eksklusif tentu saja. Sebuah berita seperti ini pasti akan banyak peminatnya.
“Kakak?” Johnson mengangkat sudut bibirnya, lalu dia berjalan mendekati Lavi. Dia sudah tidak tahan dengan semua ini. “Siapa yang kau maksud kakak?” Johnson berdiri di hadapan Lavi dengan mata yang penuh luka.Dae Jung tak tahu harus bersikap apa, karena posisinya di sini serba salah. “Dia maksudmu?” Johnson memandang Dae Jung dengan tatapan jengah.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Johnson. Rasa panas langsung menjalar di pipinya, “ Kau ini benar-benar anak kurang ajar. Aku tidak pernah mengajarkanmu bersikap tidak sopan seperti ini!” kata Lavi tidak terima perlakuan Johnson pada Davin.
“Ma, jangan bertengkar, aku tidak mau kalian bertengkar. Aku bisa jelaskan semua ini,” kata Dae Jung mencoba untuk memisahkan Lavi dan Johnson.
“Ma? Kau memanggilnya Ma?”
Hati Johnson terasa sangat sakit, selama delapan tahun terakhir dia tidak pernah bisa memanggil perempuan di hadapannya ini dengan sebutan mama dan Dae Jung bisa dengan mudah memanggilnya begitu saja.
“Dasar penipu!” Kata Johnson tidak terima.
Tanpa basa-basi Johnson memukuli Dae Jung. Bukan hanya sekali dua kali pukulan tapi berkali-kali dan Dae Jung hanya diam tidak membalas. Dae Jung merasa pantas menerimanya.
“Hentikan!Hentikan, Johnson, kau tidak ada hak memukulnya!” Lavi menarik lengan Johnson agar dia berhenti memukuli Dae Jung namun lelaki itu tak kunjung berhenti.
“Berhenti memukul Davin atau aku akan membunuhmu!” Teriak Lavi. Dia berlari menuju meja makan, di sana terdapat pisau untuk mengiris kue ulang tahun Davin. Mendengar nama Davin disebut Johnson berhenti memukul Dae Jung. Lelaki itu berbalik tepat di saat Lavi mengayunkan pisau ke arahnya. Johnson menahan pisau di tangan Lavi dengan tangannya, “Berhenti membicarakan tentang Davin, Ma! Davin sudah mati. Mama yang bilang sendiri bahwa aku penyebab kematian Davin! Sekarang berhenti bersikap seperti ini. Tolong sadar bahwa Davin sudah tiada,” Johnson menggenggam pisau di tangannya dengan erat . Dia tidak peduli darah yang mengalir di tangannya. Ucapan Johnson seperti kembali menarik Lavi ke alam nyata.
“Tidak mungkin, Davin belum mati Davin masih ada di sini. Iya kan, pa?” Lavi berjalan ke arah Stephen meminta lelaki itu untuk membenarkan ucapannya.Stephen yang sejak tadi diam dan menyaksikan semua keributan itu akhirnya buka suara, “Davin sudah tiada dan kau harus bisa menerima kenyataan itu,” kata Stephen dengan suara yang dingi