Tawaran Tinggal Bersama

1020 Kata
Rasanya malu sekali. Harusnya Austin tidak memukuli Dae Jung seperti itu. Hingga dua hari setelah kejadian itu Austin masih berada di kediaman Peterson. Dia masih berat untuk kembali ke apartemen. Lelaki itu ingin meminta maaf pada Dae Jung namun gengsinya terlalu tinggi. Dae Jung tengah berdiri di depan kamar Austin, hari ini hari terkahir Dae Jung untuk tinggal di kediaman Peterson. Rasa haus membuat Austin berjalan menuju pintu. Siapa yang sangka tepat di saat Dae Jung ingin mengetuk pintu Austin membuka pintu dari dalam. Keduanya benar-benar canggung sekarang. “Kau mau pergi?” Tanya Austin setelah keheningan yang cukup mencekik. Dae Jung mengangguk. “Maaf karena sudah membuatmu salah paham,” kata Dae Jung. Stephen sudah menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Dae Jung juga korban keadaan di sini, dia tidak bisa menyalahkan Dae Jung sepenuhnya. “Sudahlah jangan dibahas. Kau mau pergi ke mana? Apa kau sudah ada tempat tinggal?” Ini pertama kalinya Dae Jung dan Austin terlibat dalam sebuah pecakapan yang panjang. Dae Jung menggeleng. Dia tidak tahu harus ke mana, dia juga belum mencari tempat tinggal, yang jelas dia harus keluar dari rumah ini dulu. “Entahlah, mungkin aku akan mencari tempat tinggal hari ini,” kata Dae Jung. “Apa kau mau tinggal bersama denganku?” Mata Dae Jung langsung membola saat Austin memberikan penawaran itu. “Jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku menawarkan padamu karena apartemenku cukup luas di sana ada dua kamar dan aku jarang pulang ke apartemen juga,” kata Austin. Dae Jung tampak berpikir sejenak, Austin bilang tidak akan memungut biaya jiak Dae Jung tinggal di sana. Dia merasa bersalah karena telah memukul Dae Jung. Dae Jung akhirnya mengangguk, lumayan kan buat menghemat pengeluaran. Lelaki itu tampak senang dengan tawaran Austin. “Baiklah jika kau memaksa aku akan tinggal di apatemenmu,” kata Dae Jung sambil tersenyum. Sudah tiga bulan Dae Jung tinggal di apartemen Austin, benar seperti yang dia bilang apartemen ini cukup luas. Dae Jung tidak menyangka bahwa Austin punya seperangkat alat band lengkap seperti gitar, bass dan drum dan dia juga mengizinkan Dae Jung memakainya. Dae Jung suka gitar karena itu dia sering meminjam gitar Austin untuk menciptakan lagu atau sekadar bernyanyi. “Suaramu bagus, kenapa kau tidak coba ikut audisi saja?” Austin muncul dari balik pintu sambil membawa sekotak pizza. “Ini sebuah penghinaaan apa pujian?” Tanya Dae Jung sambil tersenyum. Austin mencebikkan bibirnya, “Kau ini selalu saja berpikiran negatif tentangku,” kata Austin. Lelaki itu meletakkan pizza di meja dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah brosur yang dia dapat dari universitasnya. “Apa ini?” Tanya Dae Jung sambil mengerutkan keningnya. “Kau tidak bisa baca apa gimana? Itu kan sudah jelas disitu informasinya,” sindir Austin. Dae Jung yang tidak tertarik dengan brosur di hadapannya akhirnya mulai membaca isinya. MX Entertainment Global Audition Hiring: Band Member Audition: Upper Canada Mall, 23 January 2011 “Apa kau tertarik?” Tanya Austin. Dae Jung tampak menghela napasnya, bukannya dia tidak tertarik dengan audisi ini, namun audisi hanya tinggal seminggu, bagaimana bisa dia mempersiapkan audisi dalam waktu sesingkat itu. “Aku dan bandku akan ikut audisi. Jika kau mau ikut audisi kita bisa bertemu di sana,” kata Austin. Oh ya, mungkin kamu belum tahu, Austin punya band Rock yang dia namai The Zip. Alasan kenapa Austin selalu pulang malam saat dia SMA adalah dia selalu mendapat pekerjaan manggung di bar maupun pub, jadi dia selalu pulang malam. Dae Jung baru tahu soal itu. Dae Jung juga pernah punya band sewaktu SMA, namun tidak terbentuk lama, mereka hanya sempat mengcover lagu di Youtube. Meski kualitas mereka bagus namun tak ada bar, café atau festival yang mengundangnya, alhasil mereka bubar setelah terbentuk selama dua bulan. “Sepertinya aku tidak tertarik dengan ini,” Dae Jung meletakkan kembali brosur di meja dan membuka kotak pizza yang tadi dibawa oleh Austin.Selama beberapa bulan tinggal bersama Austin sudah mulai terbuka sekarang. Meski Austin jarang pulang ke apartemen, tapi ketika mereka bertemu, mereka sering cerita. Ini aneh, tapi Dae Jung suka perubahan Austin.Dia jadi punya teman dekat sekarang. “Kenapa? Apa kau takut gagal?” Tanya Austin dengan nada seperti menantang Dae Jung. “Nope,” aku hanya tidak ingin ikut audisi saja. Dae Jung membuka halaman google di laptop yang ada di sampingnya. Dia seperti pernah mendengan nama MX Entertainment. Terdengar tidak asing dan benar saja, MX Entertainment merupakan salah satu agensi besar di Korea yang menaungi boygrup dan girlgrup yanga da di Korea. Namun ini pertama kalinya MX Entertainment menggelar audisi untuk sebuah band, bahkan mereka sampai mengadakan audisi global. Sepertinya mereka serius ingin mendebutkan band di tengah marahnya girlband atau boyband di korea. “Kau lihat sendiri kan? MX Entertainment adalah salah satu agensi besar, tidak mudah menjadi Trainee di sana, atau buat debut sekalipun,” kata Dae Jung. Dae Jung tidak ingin gegabah, mana mungkin dia merelakan kuliahnya di sini untuk menjadi trainee di sana. “ “Trainee?” Tanya Austin dengan penasaran. Dae Jung menarik napas sebelum menjelaskan ini pada Austin. Sepertinya ini akan menjadi pembahasan yang panjang, “Trainee adalah proses sebelum seseorang atau grup debut atau merilis lagu dan album. Masa trainee sendiri bervariasi, ada yang cepat namun ada juga yang lama. Bukan hanya setahun dua tahun, bahkan mungkin bertahun-tahun. Yang terpilih menjadi anggota band ini nanti tidak akan langsung merilis lagu atau album. Mereka harus melewati masa pelatihan sebelum akhirnya mereka debut,” kata Dae Jung. Dia tidak tahu banyak soal dunia idol tapi dia sempat mendengar cerita tentang beberapa idol dari teman-temannya waktu SMP, “Itu pun mereka belum tentu debut, ada juga yang gagal debut dan tidak menjadi idol maupun penyanyi.” “Apa benar sepanjang itu prosesnya?” tanya Austin. Dae Jung mengangguk, “Kau pikir begitu diterima mereka akan langsung tampil di atas panggung? Tidak semudah itu tentunya, bikin pizza aja butuh proses apalagi debut jadi idol” kata Dae Jung. Dae Jung ingin bersikap realistis, dia tidak mau menggantungkan masa depannya untuk sesuatu yang belum jelas karena itu dia lebih memilih untuk hidup tenang dan kuliah di Kanada saja itu cukup. NO drama again in his life.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN