Kemalangan Apa Keberuntungan?

1067 Kata
Ilsung tampak gelisah sambil terus mengubungi seseorang. Sejam lagi audisi dimulai namun dia belum melihat Tae Joon datang. Padahal mereka sudah janjian, Harin juga sudah berjanji bahwa dia akan datang, Ilsung melirik jam di hapenya. Haruskah dia masuk duluan. Tapi dia masih ingin menunggu Tae Joon dan Harin datang. Ilsung begitu gugup hari ini. Ini pertama kalinya dia ikut audisi. “Hyung, kau di mana?” Begitu telepon diangkat Ilsung tanpa sadar berteriak pada Tae Joon. Tae Joon dan Harin sudah bersiap untuk datang ke tempat audisi Ilsung namun sesuatu yang tak terduga terjadi. Harin mengalami sakit perut dan mereka sedang ada di klinik sekarang. “Ilsung sepertinya aku tidak dapat datang ke sana sekarang, apa kau tidak apa-apa audisi sendirian?’ Tanya Tae Joon. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Ilsung dengan tatapan nada khawatir. “Kenapa nuna tidak dapat kuhubungi? Apa nuna bersamamu sekarang?” imbuh Ilsung, sejak tadi dia berusaha menghubungi Harin namun ponsel sang kakak tidak aktif. “Aku sedang di klinik sekarang, sepertinya Harin mengalami sakit perut karena salah makan. Aku akan segera ke sana setelah mengantar Harin pulang. Apa kau bisa melakukan audisi sendiri?” Kata Tae Joon. Ilsung ingin menjawab tidak namun dia tidak bisa egois sekarang. Harin lebih membutuhkan Tae Joon sekarang, bagaimanapun Tae Joon adalah pacarnya Harin dan kedudukan Ilsung sebagai adik berada di ututan nomor dua sekarang. “Apa kakak baik-baik saja sekarang? Tolong kau jaga kakak baik-baik. Aku bisa masuk sendiri, Hyung. Kau tidak perlu khawatir,” ujar Ilsung berusaha menenangkan Tae Joon. “Baiklah, aku akan segera ke sana setelah mengurus ini,” janji Tae Joon. Ilsung menyahut dengan kata iya lalu telepon terputus. Lelaki itu akhirnya masuk ke dalam gedung audisi. Begitu masuk, Ilsung sedikit terkejut, antriannya begitu panjang. Namun yang membuat Ilsung heran banyak diantara peserta audisi yang membawa gitar bass dan juga alat musik lainnya. Ilsung membaca kembali pesan dari Tae Joon yang berisi tempat hari ini. “Benar kok, aku tidak salah tempat, tapi kenapa mereka membawa alat musik lainnya? Ah, mungkin saja mereka ingin menunjukkan bakat di bidang lainnya. “ Ilsung bermonolog. Lelaki itu segera mendaftarkan namanya ke salah satu staff yang mengurus masalah pendaftaran peserta. Ilsung menghela napas, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang. Ilsung mendapat nomor urut tiga ratus lima belas dari banyaknya peserta. Mungkin Ilsung akan berakhir seharian di tempat ini. Setelah mendapat nomor urut, Ilsung memilih duduk sendiri di pojokan sambil menghafalkan lagu yang sudah dia persiapkan. Dia memasang earphone di kedua telinganya. Para peserta tampak sibuk berlatih dengan alat musik yang mereka bawa. Ilsung mengamati sekitarnya lalu dia kembali fokus dengan buku musik yang ada di hadapannya. Ilsung tampak larut dengan buku yang dibacanya, dia bahkan sempat mengerjakan tugas kuliahnya di sela-sela waktunya menunggu giliran audisi. “Hei,” seseorang menepuk pundak Ilsung yang langsung membuat Ilsung tergagap. Empat jam sudah berlalu sejak Ilsung duduk di tempat ini. Ilsung memandang seseorang yang menepuk bahunya. Lelaki itu juga memakai nomor peserta seperti dirinya. Ilsung melepas earphone yang menempel di telinganya. “Kau 315 bukan?” Tanyanya dengan nada sedikit ambigu. Ilsung tampak kebingungan lalu lelaki itu tampak menunjuk nomor yang ada di d**a kanan Ilsung. “Nomormu, kau sudah dipanggil tiga kali, cepat masuk sana,” katanya dengan nada datar. Seorang staff sedang menatap Ilsung dengan tatapan kesal. Dia sudah memanggilnya selama tiga kali namun Ilsung tidak mendengarnya. Ilsung segera mengemasi barang-barangnya, langsung menemui staff, “Apa kau tidak niat audisi? Kenapa dipanggil tidak menyahut dari tadi,” begitu sampai di depan staff Ilsung langsung kena semprot. Perempuan itu tampak kesal karena Ilsung membuatnya menunggu. “Maafkan aku,” cicit Ilsung. Lelaki itu seger masuk ke ruang audisi. Ilsung meletakkan tasnya di pojok ruangan. Dia tidak mungkin membawa tasnya ke atas panggung, dengan jantung berdebar kencang Ilsung melangkah di atas panggung. Ilsung tidak pernah membayangkan bahwa ruangan ini adalah panggung teater dengan jumlah kursi penonton yang sangat banyak. Ada lima juri yang berada di depan kursi, dua perempuan dan tiga laki-laki. Ruangan ini tampak penuh dengan staff dan beberapa kamera tampak menyala. Ilsung mengerutkan keningnya. “Apa audisi resital piano memang dilakukan dengan cara seperti ini?” Batin Ilsung. Lelaki itu menggenggam jemarinya, lalu langkahnya berhenti di tengah-tengah panggung. Ilsung membungkuk 90 derajat lalu memberikan salam. “Anyeonghaseo, namaku Kim Ilsung, umurku dua puluh tahun, aku ke sini untuk ikut audisi, mohon bantuannya,” kata Ilsung dengan senyum seperti matahari. Ilsung mengamati sekitar. Tidak ada piano di sekitarnya, hanya da beberapa alat musik seperti keyboard, drum, gitar, dan bass. “Apa kau selalu sombong seperti itu?” Jantung Ilsung rasanya mau copot mendapat komentar pedas seperti itu padahal dia belum melakukan apa-apa. Ilsung menatap seseorang yang kini menegurnya. Di depan Ilsung terdapat lima juri yang tampak asing di mata Ilsung. Kim Hwang, Jennifer Dash, Hani Lin, Exdo dan Dreo merupakan lima juri yang sangat berbakat di bidang audisi. Kelimanya tidak segan menolak peserta audisi bahkan sebelum dia menunjukkan bakat yang dia punya. Sejak Ilsung masuk ke ruang audisi mata Kim Hwan tak lepas dari Ilsung, lelaki itu langsung membuat penilaian singkat yang cukup menohok. Ilsung cukup sombong datang ke audisi tanpa membawa alat musiknya sendiri. Atau memang dia semahir itu sehingga memilih audisi tanpa memawa alat musik apapun. “Kau jangan seperti itu, dia bisa takut sebelum menunjukkan bakatnya,” Hani menegur Kim Hwang namun yang ditegur tampak tidak peduli. “Maaf aku tidak tahu apa yang Hyung maksud?” kata Ilsung dengan hati-hati. Mendengar kata Hyung amarah Kim Hwang kembali meluap. “Kau memanggilku Hyung? Kita tidak sedekat itu,” kata Kim Hwang tidak terima. Jika Kim Hwang tampak tidak suka dengan Ilsung lain halnya dengan Jennifer, perempuan itu tampak menikmati pertunjukan di depannya. Ilsung tampak lucu di depannya, dia juga memiliki tatapan yang polos. “Apa kau tidak mengenalnya Ilsung? Kenapa kau memanggilnya Hyung,” tanya Hani Lin. Ilsung menggeleng. Lelaki itu benar-benar jujur. JIka peserta lain akan memilih untuk berpura-pura mengenal siapa lelaki di hadapannya maka Ilsung memilih untuk berkata jujur. “Maaf, tapi aku tidak mengenalnya.” Sontak Ilsung membuat mereka semua tertawa. Jennifer Dash melirik ke arah Kim Hwang, “Sepertinya kau harus berusaha lebih keras, lihat saja dia bahkan tidak mengenalmu,” ledek Jennifer yang membuat Kim Hwang semakin emosi. “Kau! AKu tidak akan meloloskanmu dalam audisi ini,” Kim Hwang langsung mengambil bolpoint dan mencoret nama Ilsung dari daftar audisi. Tamat sudah riwayat Ilsung sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN