Dae Jung menatap dirinya sendiri. Pantulan dirinya begitu tampan sehingga dia tak mengenali dirinya sendiri. Dae Jung terlihat sangat tampan dengan tuxedo berwarna hitam yang melekat d tubuhnya. Lavi bahkan membelikan jam tangan Rolex untuk Dae Jung. Beberapa orang dari salon juga datang ke rumah untuk menata rambut Dae Jung. Lavi ingin penampilan Davin sempurna. Ini pertama kalinya Davin akan tampil di publik . Sejak awal Lavi tidak pernah menunjukkan Davin di depan publik, tidak ada yang tahu bahwa Davin adalah anaknya. Bagaimana dia bisa menunjukkan anak dari hubungan di luar nikah, meski Lavi sangat ingin menunjukkan Davin pada dunia namun Lavi tidak akan membiarkan anaknya mendapat hujatan dari banyak orang. Orang-orang pasti akan menghinanya karena dia bukan darah daging Stephen. Padahal Stephen sama sekali tidak keberatan mengakui Davin di depan publik.
“Kau terlihat tampan,” Stephen masuk ke kamar Dae Jung dengan mengenakan jas Ermenelo. Salah satu merek jas termahal di dunia yang dipesan khusus untuk Stephen. Dae Jung menoleh dan menyapa Stephen dengan canggung. Mereka masih saja canggung meski sudah setahun tinggal bersama, Dae Jung tampak gugup karena hari ini adalah acara yang besar dan Dae Jung tidak boleh melakukan kesalahan.
“Apa kau gugup?” Tanya Stephen, Dae Jung menganggguk, “Ini pertama kalinya bagiku menghadiri pesta seperti ini. Pesta ini terlalu mewah dan aku tidak terbiasa dengan ini,” ujar Dae Jung mengungkapkan perasaannya, meski mereka berdua cukup canggung namun Dae Jung cukup terbuka dengan Stephen. Stephen mengulum senyumnya. Lelaki itu duduk di sofa yang ada di kamar Dae Jung, “Kenapa Tuan kemari? Bukankah seharusnya Tuan menemani Nyonya Lavi?” Kata Dae Jung. Stephen menatap Dae Jung dengan perasaan bersalah, selama setahun dia sudah memanfaatkan lelaki yang baik ini, perasaan bersalah menyelimutinya.
“Mari kita hentikan ini Dae Jung,” kata Stephen yang membuat Dae Jung mengerutkan keningnya. “Maksud Tuan?” Dae Jung tidak mengerti ucapan Stephen. Stephen memijat ujung-ujung jarinya. Dia sudah memikirkan masalah ini lama. Dia tidak bisa terus menyeret Dae Jung dalam sandiwara ini. Sama saja dia mengurung Dae Jung dan merebut kebebasannya. Harusnya dia bisa mendapatkan kehidupan masa kuliah yang menyenangkan tapi dia malah terjebak di rumah besar ini dan memerankan seseorang yang bukan dirinya. Stephen menjadi melankolis setelah memikirkannya berhari-hari.
“Mari kita sudahi sandiwara ini, Dae Jung,” kata Stephen. Dae Jung tahu betapa sayangnya Stephen pada Lavi, tapi apa dia tega melihat istrinya terpuruk kembali. Dae Jung menelan ludahnya kasar sebelum menjawab, “Apa Tuan siap jika Nyonya Lavi down kembali?”
Stephen mengusap wajahnya kasar, “Setelah memikirkannya lagi aku begitu egois karena sudah memanfaatkanmu dan memang sudah saatnya sandiwara ini diakhiri. “ Kata Stephen. Dae Jung harusnya senang jika sandiwara ini berakhir. Dia akan segera mendapatkan kebebasannya namun membayangkan Lavi kembali terpuruk dan mengalami depresi Dae Jung merasa kasihan padanya. Dia ingin egois namun tidak bisa.
“Bagaimana caranya?” Tanya Dae Jung. Stephen menghela napasnya, “Kau tidak perlu tahu soal itu biar aku yang mengurusnya. Kau cukup turun ke bawah dan berakting sebagai Davin untuk yang terakhir kalinya,” gumam Stephen dengan suara dingin lalu membuka pintu kamar Dae Jung dan berlalu. Dae Jung masih membeku di tempat, sebenarnya apa yang sedang lelaki itu pikirkan?
Sudah lebih dari dua jam Johnson menyumpal telinganya dengan headset. Tidak ada yang bisa dia lakukan malam ini selain berdiam diri di kamar dan menghabiskan waktunya dengan mendengarkan playlist di ponsel miliknya sampai pesta di bawah selesai. Johnson tidak perlu khawatir meski dia harus berdiam diri di kamar, Linda sudah membawakan begitu banyak makanan ke kamarnya, namun sejak tadi Johnson sama sekali tidak ada niatan untuk menyentuhnya.
Johnson sedikit terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Stephen tengah duduk di ranjangnya dan kini tengah tersenyum ke arahnya. Johnson segera melepas headsetnya dan mengubah posisinya menjadi duduk, “Aku mengganggumu ya?” Kata Stephen. Sudah lama dia tidak melihat Johnson, sudah hampir empat tahun Johnson pergi dari rumah ini. Itu karena dia tidak tahan dengan perlakuan Lavi. Johnson memilih tinggal di luar daripada di rumahnya, saat masih SMA, Johnson memilih tinggal di asrama sementara semenjak kuliah dia tinggal di apartemen sekarang.
“Tidak, Papa apa kabar?” tanya Johnson dengan penuh kerinduan. Johnson sangat menyayangi Stephen, begitu melihatnya dia langsung memeluk sang ayah. Stephen membalas pelukannya dengan hangat, Johnson agak sedikit terkejut karena Stephen terlihat sangat rapi sekarang. Bukan hanya rapi tapi juga wangi, “Aku baik, kamu juga kan?” Johnson mengangguk di balik pelukan Stephen. Pelukan itu berlangsung singkat. Johnson mengangguk. “Papa mau kemana? Kenapa rapi sekali?”
Johnson memukul kepalanya sendiri pelan begitu menyadari sesuatu, “Ah iya lagi ada pesta di bawah,” kata Stephen dengan nada suara sedih. “Kau tidak turun?” Tanya Stephen yang lebih terdengar seperti ajakan bukan pertanyaan. Johnson menggeleng. Dia tidak mau merusak suasana pesta. Terutama akrena Lavi tidak menginginkannya.
“Kau bagian dari keluarga ini Johnson, jadi lekaskah bersiap dan turun,” bujuk Stephen. Johnson menggeleng. “Malas ah, Pa. Hari ini aku capek sekali, aku lebih baik istirahat saja,” kata Johnson. Sebenarnya Stephen tengah merencanakan sesuatu. Tapi melihat Johnson terlihat lelah malam ini mungkin sebaiknya Stephen membatalkan rencananya.
“Baiklah, kau istirahat saja, tapi jika kau berubah pikiran kau bisa memakai ini,” Stephen menunjuk pada jas yang sudah tergantung rapi dan juga beberapa pasang sepatu yang entah sejak kapan berada di sana. Johnson mengangguk tanpa semangat, lelaki itu hendak memasang headsetnya kembali ketika Stephen menghentikan langkahnya dan berputar, “Apa kau tidak bertanya kami mengadakan pesta apa di bawah?” pancing Stephen. Dia tidak boleh gagal membujuk Johnson untuk turun kali ini.
“Should I know about it?” Stephen mengangguk. “Kau mungkin akan terkejut. Lebih baik kau bersiap dan turun,” kata Stephen lalu menutup pintu. Johnson mengerutkan keningnya. Dia tidak tertarik dengan pesta di bawah namu ucapan Stephen membuat lelaki itu tertarik dengan apa yang dia ucapkan. Di balik pintu Stephen berharap agar Johnson tertarik dengan ucapannya dan turun ke bawah. Namun Johnson justru berbaring kembali di ranjang. Sebesar apapun rasa penasarannya tidak lebih besar daripada rasa bersalahnya pada Lavi. Kematian Davin adalah kesalahannya dan dia harus menebusnya dengan tidak mengganggu kesenangan Lavi sekarang.