Unexpected Day

1072 Kata
“Ada apa, Miss?” Johnson mengrutkan keningnya ketika lInda berdiri di depannya dan menghalanginya untuk membuka pintu. Sama seperti Dae Jung, Johnson juga memanggil Linda dengan sebutan Miss. “Apa ada yang kau sembunyikan dariku?”Kata Johnson curiga. Johnson merasa ada yang Linda sembunyikan darinya. Biasanya dia akan membiarkan Johnson masuk ke kamar Davin dan menghabiskan waktu berjam-jam di sana namun kali ini Johnson bisa melihat raut wajah Linda yang resah. Sementara itu di kepala Linda perempuan itu tengah berusaha menyusun kalimat yang tepat. Mana mungkin dia menceritakan tentang Dae Jung yang tengah menyamar sebagai Davin sekarang. “Ruangan Tuan Davin belum aku bersihkan, ada banyak debu, lebih baik Tuan Muda istirahat dulu,” kata Linda memberi alasan. Johnson menatap Linda dengan tatapan menyelidik. Linda tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya tapi Johnson tidak ambil pusing. Johnson mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Davin. Dia memang sedikit lelah hari ini. Ujian semester membuat kepalanya sakit. “Baiklah, aku akan beristirahah, beri tahu aku jika kau sudah membersihkan ruangannya, “ kata Johnson. Linda bisa menarik napas lega ketika lelaki itu berjalan menuju kamarnya. “Linda, kenapa kau masih ada di sini. Cepat selesaikan persiapan pesta sebelum Davin pulang,” Lavi yang melihat Linda tengah berdiri di depan kamar Davin langsung mengomeli Linda. Linda meneguk ludahnya kasar. Kamar Johnson bersebelahan dengan kamar Davin dan lelaki itu masih berdiri di depan pintu. Johnson melirik ke arah Lavi, dalam hatinya di turut senang karena Lavi terlihat lebih baik. “ Oh, kau? Tumben pulang?” Tak ada sambutan yang hangat atau pelukan dari sang mama seperti yang Johnson harapkan ketika dia pulang. Tatapan sinis itu kembali. Tatapan yang seolah menggambarkan bahwa Johnson adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak hadir di dunia ini. Linda segera berlari ke arah Lavi sebelum wanita itu mengoceh kembali. Johnson berjalan mendekati Lavi untuk menyapanya namun tatapan sinis dari perempuan itu membuatnya tak berani mendekatinya lebih jauh. “Mama apa kabar?” Tanyanya sambil menjaga jarak. Lavi tampak ingin segera pergi dari sana karena tidak nyaman. Setiap kali melihat Johnson dia kembali teringat akan Julian. Dia merasa berselingkuh dan sangat membenci Johnson. Tapi anehnya perempuan itu bersikap manis kepada Stephen seolah dia mencintai lelaki itu. Padahal semua orang juga tahu, Lavi itu gila harta dia tidak akan melepaskan harta milik Stephen begitu saja. Dia memang benar-benar egois. “Stop! Jangan mendekat!” Teriak Lavi. Dia menatap jijik Johnson dan tidak ingin lelaki itu mendekatinya. Linda menatap ke arah Johnson dan memberikan kode kepada lelaki itu untuk mundur. Untungnya Johnson pengertian. “Lebih baik kau diam di kamarmu dan jangan mengganggu pesta kakakmu malam ini. Atau aku akan membencimu jika kau menghancurkan pesta kakakmu malam ini.” Ujar Lavi dengan wajah marah. Kakak? Johnson mengerutkan keningnya. Dia ingin bertanya lebih jauh tapi Lavi lebih dahulu memutus pembicaraan diantara mereka. Johnson hanya bisa menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah keadaan Lavi sudah membaik namun kenapa perempuan itu mengadakan pesta untuk Davin di hari kematiannya? Johnson punya seribu pertanyaan di kepalanya. Tapi seperti kata Lavi tadi, perempuan itu tidak mau Johnson mengganggunya jadi dia akan mengabulkannya. Lavi benar-benar tidak mendengarkan ucapan Dae Jung dan saran dari Linda. Dae Jung baru saja pulang dari kampus ketika rumah kediaman keluarga Stephen berubah layaknya ballroom hotel bintang lima. Dae Jung sejenak lupa ukuran kata sederhana bagi Lavi seperti apa. Tentu saja menyiapkan pesta dalam waktu sehari bukan hal yang sulit bagi keluarga kaya raya seperti mereka. Dae Jung memperhatikan orang yang lalu lalang, dia tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. “Kau sudah pulang, Sayang?” sapa Lavi sambil memeluk Dae Jung. Dae Jung hanya mengangguk kaku. “Ma, bukankah kubilang tidak usah membuat pesta besar,” kata Dae Jung. “Ini bukan pesta besar, Sayang. Aku hanya mengundang sekitar lima ratus orang. Biasanya kita mengundang seribu,” kata Lavi. Hanya lima ratus orang? Dae Jung benar-benar tidak paham kenapa orang kaya gampang sekali menghamburkan uang. “Lebih baik kau istirahat dulu Sayang, biar malam nanti kamu bisa lebih segar. Mama sudah siapkan makan siang di kamar kamu. Juga tuxedo dan sepatu yang akan kau gunakan untuk pesta nanti malam. Kau boleh mencobanya, jika kau tidak suka, kau bilang saja, aku akan membelikanmu yang baru.” Kata Lavi dengan lembut. Harusnya Dae Jung merasa bahagia karena dilimpahi kasih sayang seperti ini. Namun setiap kali dia melihat Lavi dirinya merasa sedih. Secara tidak langsung Dae Jung sudah menipu dirinya, bagaimana jika suatu hari nanti dirinya sadar bahwa Dae Jung bukanlah Davin. Terkadang Dae Jung merasa takut memikirkan itu. “Aku ke atas dulu, Ma,” kata Dae Jung berpamitan. Dae Jung berjalan menaiki tangga dengan lemas. Langkahnya benar-benar tidak bertenaga. Mungkin lebih baik dia tidur sebentar sebelum berakting untuk acara nanti malam. Langkah Dae Jung terhenti di depan kamarnya. Samar-samar dia mendengar suara musik rock yang lumayan kencang dari kamar di sampingnya. Saat ini Dae Jung menempati kamar Davin. Linda bilang di sebelahnya adalah kamar Johnson yang tidak terpakai karena lelaki itu memilih tinggal di apartemen. Pintu sebelah kamar Dae Jung sedikit terbuka. Dae Jung mengerutkan keningnya. “Apa Johnson pulang? Kenapa pintunya terbuka?” Batin Dae Jung. “Haruskah aku menyapanya?” batin Dae Jung bergejolak. Tapi apa Johnson akan terima jika Dae Jung menyamar sebagai sang kakak yang sudah tiada? Dae Jung kembali mengendurkan niatnya. “Kenapa masih berdiri di situ, Tuan Muda,” Linda datang dengan nampan berisi makan siang Dae Jung. Karena di bawah sedang ada banyak orang pasti tidak nyaman untuk Dae Jung makan di sana, karena itu Lavi meminta Linda untuk menyiapkan makan malam Dae Jung di kamarnya. Dae Jung seperti tersadar dari lamunannya, “Tuan Muda Johnson pulang hari ini, dia memang selalu pulang saat Davin ulang tahun,” Linda memberitahu Dae Jung dengan nada bicara setengah berteriak karena musik di kamar Johnson begitu keras. “Ah begitu,” Dae Jung mengangguk tanda mengerti. “Tolong bukakan pintunya, Dae Jung. Aku membawakan makan siang untukmu,” Dae Jung baru tersadar bahwa dia harus membukakan pintu untuk Linda. Dae Jung membuka pintu kamarnya lebar-lebar. “Maaf aku merepotkanmu , Miss,” kata Dae Jung. Linda berjalan melewati Dae Jung dan tersenyum, “ No problem,” katanya sambil berjalan ke kamar Dae Jung. Dae Jung menutup pintu kamarnya, tepat beberapa detik berselang setelah itu Johnson keluar kamar. Lelaki itu seperti merasa mendengar suara lelaki yang dia kenal. Namun dia segera mengabaikannya, mungkin dia hanya berhalusinasi karena terlalu merindukan Davin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN