Canada 2011
Sudah setahun Dae Jung tinggal di kediaman keluarga Peterson, semuanya berjalan seperti biasa, tidak ada yang istimewa selain dia harus berakting sebagai Davin Peterson, lelaki itu harus rela diperlakukan layaknya anak sulung dari keluarga Peterson. Namun tidak ada yang buruk tentang hal itu. Dae Jung mendapat fasilitas mewah dan mereka membiayain kuliah Dae Jung, sebuah simbiosis mutualisme yang menguntungkan.
Lavi akhirnya mau menjalani pengobatan selama setahun ini, namun dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Davin Peterson sudah tiada. Mereka harus pelan-pelan memberi tahu Lavi. Stephen sangat berterima kasih pada Dae Jung. Dia tahu ini semua berat baginya dan dia cukup tersentuh ketika Dae Jung ingin tetap tinggal saat itu padahal lelaki itu mengizinkan Dae Jung untuk meninggalkan rumah ini seperti yang dia inginkan.
Dae Jung merasa iba dnegan Lavi. Hatinya merasa tersentuh akan cerita Stephen saat itu. Mungkin terkesan lelaki itu memanfaatkannya. Namun dia bisa melihat sorot mata putus asa seorang Stephen Peterson. Tidak ada yang kurang dari hidup seorang Stepehen, dia kaya, memiliki istri yang cantik, tapi semua itu seolah tidak ada artinya jika mengingat keadaan Lavi sekaang. Perempuan itu seperti kehilangan harapan hidup dan untuk pertama kalinya dalam hidup Lavi dia bersikap normal layaknya istri setelah kedatangan Dae Jung di sini.
Dae Jung juga sudah menceritakan ini pada orang tuanya, awalnya mereka menolak Dae Jung tinggal di sana. Orang tua mana yang rela ketika melihat sang anak harus berakting seperti orang lain. Namun kemudian Dae Jung menjelaskan semuanya. Junhee cukup tersentuh dengan kebaikan Dae Jung, namun dia meminta Dae Jung hanya tinggal selama dua semester di sana itu artinya bulan depan Dae Jung harus pindah dari sana.
“Ma, aku tidak mau pesta besar buat ulang tahunku, kita cukup makan malam bersama saja,” kata Dae Jung pada Lavi, mereka sedang membicarakan acara ulang tahun Davin. Meski berakting seperti Davin namun sifat sederhana Dae Jung masih dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Linda merasa kagum dengan Dae Jung. Dia tidak kehilangan dirinya meski dia harus berkating sebagai Davin.
“Tuan Dae Jung, eh maksudnya Davin benar Nyonya, kita sebaiknya tidak membuat pesta besar karena itu akan mengeluarkan banyak uang, bukan maksudku meremehkan Tuan dan Nyonya tapi bukankah lebih baik kita menggunakan uang untuk keperluan yang lebih baik,” ujar Linda memberikan saran.
Lavi menatap tajam ke Linda, dia terlihat tidak senang dengan sikap Linda, “Aku tidak meminta pendapatmu Linda,” kata Lavi sedikit kasar, Dae Jung memandang Linda dengan perasaan tidak enak. Lavi bukan majikan yang baik pada pembantunya. Dia selalu membuat Linda bekerja keras. Terkadang dia sangat cerewet terutama soal kebersihan. Meski tidak pernah komplain namun Dae Jung tahu dalam hati Linda pasti merasa sangat sedih,.
“Maafkan aku, Nyonya,” Kata Linda meminta maaf. Dae Jung menutup bukunya dan menatap Lavi,”Ma, aku rasa pendapat Miss Linda benar, aku bukan sedang membelanya namun menghamburkan uang itu tidak baik. Masih banyak orang di luar sana yang kesulitan sementara kita menghamburkan uang begitu saja itu tidak baik,” kata Dae Jung. Linda tersenyum ketika Dae Jung setuju dengan ucapannya. Senyum Linda langsung surut begitu mendapat pelototan dari Lavi. Perempuan itu tampak tak suka karena Dae Jung lebih sependapat dengan pembantunya.
“Baiklah, kalau begitu mama tidak akan membuat pesta besar. Tapi pesta kecil boleh kan? Come on Davin. Ini hari ulang tahunmu, apa kau akan melewatkannya begitu saja?” Kata Lavi besikukuh untuk membujuk Dae Jung agar mengiyakan keinginannya. Dae Jung memijat kepalanya.
“Ah meolla.”
“ Kau bicara apa Davin?” Lavi mengerutkan keningnya saat Dae Jung berbicara dalam bahasa korea yang artinya adalah terserahlah, Dae Jung langsung merasa keceplosan. Dia kadang lupa bahwa dirinya tengah berakting sebagai Davin sekarang.
“Maksudnya terserah mama saja, aku berangkat kuliah dulu,” kata Davin. Lavi mengangguk lalu mencium pipi Dae Jung. Lelaki itu merasa geli. Satu-satunya hal yang tidak Dae Jung suka dalam sandiwara ini adalah Lavi selalu mencium pipinya, padahal mereka sebenarnya bukan keluarga. Tapi cium pipi di sini adalah bentuk kasih sayang sang ibu kepada anaknya. Karena di hadapan Lavi sekarang Dae Jung adalah Davin maka mencium pipinya adalah sesuatu yang wajar. Dae Jung pun segera berangkat kuliah setelah mengusap pipinya secara berulang-ulang. Linda tertawa melihatnya dari belakang.
Linda baru saja selesai membantu beberapa tukang dekorasi ketika melihat sosok yang tidak asing itu memasuki rumah. Dia tampak begitu dingin dan tatapannya tampak sedih. Gawat! Linda lupa . Hari ini adalah ulang tahun Davin dan setiap tahunnya Johnson pasti akan pulang.
“Tuan Muda Johnson!” Linda menyapa Johnson dengan antusias. Berbeda dengan kakaknya Davin yang selalu murah senyum. Johnson selalu dingin dan tak banyak bicara. Dia pulang ke rumah ini setahun sekali juga bukan untuk makan atau merayakan ulang tahun Davin bersama orang tuanya. Johnson pulang hanya untuk menghormati sosok sang kakak dan dia tidak akan keluar dari kamarnya sampai pagi.
“Kenapa ramai sekali? Ada apa ini?” Johnson mengerutkan keningnya ketika melihat banyak orang di rumah ini. Biasanya rumah ini sepi terlebih saat menjelang hari ulang tahun Davin. Mereka tidak mengadakan pesta. Hanya sebuah makan malam itu pun antara Johnson dan Stephen saja.
Linda mendadak gugup. Bagaimana jika Johnson tahu masalah Dae Jung? Linda harus bisa menyembunyikan ini dari Johnson. “Eum, Tuan ada acara perusahaan, jadi dia membuat pesta hari ini,” kata Linda mencoba mencari alasan. Johnson menghela napas. Dia mengamati sekitar dan tak ada yang berubah selama setahun ini, hanya saja bedanya malam ini sepertinya akan sedikit berisik.
“Aku akan naik ke atas, jangan ada yang menggangguku,” kata Johnson. Linda mengangguk. Johnson naik ke lantai dua. Di lantai dua terdapat empat kamar. Dua diantaranya adalah kamar Davin dan Johnson. Langkahnya berdiri di depan pintu kamar Davin. Setiap kali dia pulang ke rumah ini pasti dia akan menghabiskan waktu melihat kamar Davin terlebih dahulu. Sekadar melepas rindu meski sang pemiliknya sudah tidak ada. Lelaki itu memegang kenop pintu kamar Davun, namun belum sempat dia membukanya, Linda datang dengan napas tergopoh-gopoh. “Jangan dibuka,” teriaknya yang membuat Johnson mengerutkan keningnya. Lelaki itu menatap Linda dengan berbagai pertanyaan terlebih saat Linda bersikukuh menghalangi puntu yang akan dibukanya. Dia semakin penasaran untuk membuka dan melihat apa yang dia sembunyikan darinya.