Aeyong menjitak kepala Do Yun, “ Kau ini selalu saja pesimis sebelum mencoba. Kau kan bisa coba dulu, Do Yun,” kata Harin dengan gemas.
MX Entertainment merupakan salah satu agaensi besar di Korea. Mereka menaungi artis, musisi, idol dan banyak lainnya. Sulit sekali untuk lolos audisi dari MX Entertainment. Terlebih ini pertama kalinya mereka mengadakan audisi personil band. Tidak seperti biasanya Mx Entertainment ingin mencoba hal baru dengan mendebutkan band. Biasanya mereka mendebutkan girl grup maupun boy grup tapi kali ini mereka ingin menjajal hal baru dengan mendebutkan band. Sungguh sesuatu yang sangat mengejutkan. Banyak publik yang pro kontra akan hal ini, ada yang menyambut baik namun ada yang tidak setuju karena mereka khawatir MX Entertainment tidak dapat mengurus band dengan baik.
“Tapi ini MX Entertainment Nuna, aku ikut kompetisi di festival saja gagal apalagi ikut audisi ini,” jiwa-jiwa pesimis Yoon Do Yun menggeliat. Sebenarnya bukan pesimis, tapi lebih ke tahu diri. Dia tidak ingin mengecewakan dirinya sendiri karena ekspektasi yang berlebihan.
Aeyong menarik ponselnya dengan tatapan kecewa, dia memang ingin Do Yun ikut audisi namun dia tidak ingin memaksanya. “Do Yun, gagal dalam hidup adalah hal yang biasa. Kita pasti akan mengalaminya dalam hal apapun. Jika gagal kau bisa mencoba lagi , jangan terpuruk pada kegagalanmu sebelumnya, kau ini keren dan punya bakat. Cobalah sekali lagi,” bujuk Aeyong.
Do Yun memang belum move on dari kegagalannya di festival. Suara stik patah selalu membayangi diriya, padahal itu semua juga bukan salahnya. Festival membuat Do Yun sadar tentang apa yang dia suka. Hal yang dia suka bukan hanya drum, tapi bermain drum di atas panggung. Entah kenapa Do Yun ingin berada di atas panggung dan bermain drum. Mungkin audisi MX entertainment adalah salah satu jalan tapi Do Yun perlu memikirkannya.
Aeyong menarik napas,” Kau pikirkan saja dulu, aku sudah mengirimkan foto audisi ke ponselmu. Aku harap kau tidak menyerah mengejar mimpimu,” kata Aeyong sambil berlalu. Dia harus segera kembali ke kantor karena pekerjaannya belum selesai. Do Yun menggangguk namun dia tidak bisa memberi harapan kalau dia akan ikut audisi.
“Kau mengupload video lagi?” Tanya Ara. Hajoon mengerutkan keningnya. Lelaki yang tengah sibuk dengan layar komputernya itu menoleh,”Apa maksudmu?” Lalu kepalanya kembali sibuk dengan game di depannya.
Ara mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Hajoon.Pagi ini Hajoon kembali trending di Naver dan Twitter. Semua ini karena audisi band dari MX Entertainment. Banyak netizen yang berpendapat bahwa Hajoon pantas menjadi member band baru dari MX Entertainment. Lalu banyak dari mereka yang membawa video Youtube yang sempat terupload ke twitter.
“Hajoon, coba lihat ini dulu,” Ara gemas, perempuan itu menunjukkan layar ponselnya pada Hajoon tapi dia justru sibuk dengan komputer di depannya.
“Give me a second.” Kata Hajoon tidak mau diganggu. Dia sedang dalam pertandingan penting dan timnya butuh dirinya karena itu dia tidak bisa mengalihkan pandangannya sekarang.
“Hajoon, lihat ini dulu,” Ara menarik lengan Hajoon agar lelaki itu menoleh namun dia masih berada di posisi yang sama. Dia tidak tertarik pada apa yang akan Ara tunjukkan. Ara gemas. Ingin rasanya dia menjambak rambut sang adik karena kesal. Apa susahnya menoleh dan melihat apa yang da tunjukkan lalu kembali fokus dengan game di depannya. Ara benci diabaikan, terlebih karena sebuah game. Apa pentingnya game di banding dirinya.
“Hajoon, aku tidak punya banyak waktu,” kata Ara sambil menarik-narik lengan Hajoon agar dia menoleh. Hajoon masih belum terpancing. Ara tahu adiknya tidak akan bergerak sedikit pun kecuali jika dia melakukan ini, Ara berjalan ke arah stop kontak dan dengan cepat mencabut kabel komputer Hajoon dan membuat komputer kesayangannya mati.
“HYA! KAK ARA!”
Refleks Hajoon berteriak kesal. Hancur sudah. Hajoon sudah dipastikan kalah dari kompetisi padahal butuh waktu dua bulan buat mengikuti kompetisi dari babak penyisihan hingga dia masuk ke babak final.
“Apa? Kau mau marah?”
Hajoon ingin marah namun pelototan mata Ara lebih garang dari dirinya.Dia seolah siap menelan hajoon mentah-mentah. Hajoon membuang napasnya kasar. “Kau tidak sopan jika seperti itu. Mengabaikan kakakmu demi sebuah game. Padahal aku cuma butuh waktu lima belas menit untuk bicara denganmu.” Ara menumpahkan kekesalannya pada sang adik. Dia harus tahu kalau sikapnya itu menyebalkan dan harus memperbaikinya.
Hajoon diam sejenak. Apa yang Ara katakan benar, tidak seharusnya dia mengabaikannya begitu saja, “Maaf,”cicit Hajoon dengan perasaan bersalah.
Ara tidak bisa marah dan kesal pada Hajoon lama-lama. Semenjak dia tinggal sendiri rasanya dia kangen dengan Hajoon, lelaki ini meski menyebalkan tapi sebenarnya dia baik. Setiap kali dia menang kompetisi pasti dia menelepon Ara dan mengajaknya makan bersama.
“Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu, sekarang lihat ini,” kata Ara. Hajoon mengambil ponsel Ara dan mengamati halaman yang ditunjuk Ara. “What the heck?” Hajoon kaget saat namanya kembali trending di Naver dan Twitter.Banyak orang yang memuji Hajoon namun banyak orang yang membencinya dan memberikan hate coment.
“Bagaimana mereka bisa dapat video yang sudah dihapus?” Video yang sempat trending dulu sudah dihapus. Hajoon berhasil bicara baik-baik dengan pemilik akun twitter saat itu namun videonya kembali viral saat ini.
“Tentu saja mereka punya Menyimpan video di twitter sekarang gampang sekali, pastinya mereka dapat dengan mudah mendapatkan video atau foto yang mereka inginkan dari orang lain,” kata Ara. Hajoon baru ingat memang sekarang banyak sekali aplikasi yang mempermudah pada pengguna twitter untuk mengunduh video yang dia inginkan jadi wajar saja jika mereka bisa dengan mudah mengunggah video Hajoon kembali.
“Kau tidak ingin membaca komen?” Tanya Ara karena begitu selesai melihat halaman yang dia tunjukkan lelaki itu langsung mengembalikan ponsel miliknya.
“Haruskah aku membaca komentar yang menyudutkan diriku? Menambah beban pikiran saja,” kata Hajoon cuek. Terakhir kali dia membaca komen di internet dia langsung overthinking dan tidak bisa tidur semalaman. Mereka menulis komentar buruk tentangnya padahal Hajoon tidak kenal dengan mereka. Kenapa orang begitu mudah menyakiti orang lain yang bahkan tidak dikenalnya.
Ara mengelus puncak kepala Hajoon dengan penuh kasih sayang, “Kau sudah dewasa, Hajoon,” kata Ara.
Bukannya senang mendapat pujian dari sang kakak Hajoon justru risih, Dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil. “Apan sih, Kak.” Kata Hajoon menyingkirkan tangan Ara dari atas kepalanya.
Oh ya aku lupa, “Apa kau tidak ingin ikut ini?” Ara menyordorkan sebuah brosur audisi. Hajoon hanya meliriknya sekilas dia tidak tertarik dengan brosur yang disodorkan Ara. “Nope.” Katanya sambil menyalakan kembali komputernya.