Jani pernah bermimpi kalau Panji pulang dan memeluknya erat sekali. Dia masih tampan seperti biasa, tetap pendiam seperti biasa. Hanya saja, ada yang mengganjal dalam pikirannya dan Jani tidak mau bangun, dia ingin berlama-lama bermimpi. Entah di dalam mimpi itu Panji mendiaminya, Jani tidak masalah sama sekali. Yang penting, Panji bersamanya dan melipur laranya itu sudah cukup. Karena Jani tahu, kalau matanya sudah terbuka nanti, Panji tidak akan terlihat dimana-mana. Kalaupun ada, itu karena dia menciptakan dari halusinasinya sendiri. Panji yang tidak nyata. Panji yang ada hanya untuk sementara. Dan saat bertemu dengan Dafa, hati Jani seakan tahu kalau memang pria itu Panji-nya meski dengan nama berbeda. Walaupun hanya bola matanya yang berwarna berbeda—karena pria itu memakai lensa—Ja