"Jangan diangkat!" Reza merebut ponselku. "Hei, siapa tahu itu hal penting kan?" tanyaku. Ya walaupun aku sendiri agak sedikit waspada sih. Orang yang sedang menelponku ini akalnya penuh dengan kelicikan. "Paling juga mau intimidasi kamu lagi." Reza memasukkan ponsel milikku ke dalam saku celananya. "Tuan Du- eh, Mas Duda! Sini balikin ponselnya!" Aku berusaha mengambil kembali ponsel milikku. "Tidak akan. Aku sudah punya pengalaman gara-gara orang yang sedang berusaha menghubungimu ini, aku hampir ditinggalkan oleh orang yang paling berharga dalam hidupku." "Ish, jangan gombal di saat begini. Tuh lihat, berdering terus kan? Angkat saja. Lagian aku gak takut lagi karena. aku sedang bersamamu sekarang." "Kamu keras kepala ya?" "Memang. Baru tahu ya?" Aku meleletkan lidah. "Nakal ya

