"Apa lo bilang? Lo menemui wanita ini di kamar hotel Rama?!" Reza nampak makin geram. Rahangnya mengeras. "Iya. Emang lo kenal sama Rama?" tanya dokter itu masih dengan nada santai. Sialan, kenapa dia sesantai itu? Gak tahu apa kalau aku makin terpojok sekarang? Huft! Tadinya aku mau bilang soal kehamilanku tapi rasanya hatiku sudah enek duluan. "Tidak, gue sama sekali gak tahu siapa itu Rama," Reza mendelik tajam ke arahku. "Rama teman gue saat di kampus. Adik tingkat sih, anaknya baik kok. Dia jurusan tata boga. Bahkan kerennya tuh sekarang dia sudah sukses dengan bisnis kulinernya." Dokter itu menjelaskan tanpa menyadari raut Reza yang sudah merah padam. Malah dokter itu beralih menatapku. "Hei, gadis cantik! Pacar kamu keren juga ya?" lanjutnya. "Sudah saya bilang, ini hanya sal

