Suara Andin terdengar menjerit. Aku masih shock dengan yang terjadi barusan. Ya, saat ketiga pria itu hendak mendekat, tiba-tiba terdengar suara benda mengenai salah satu dari ketiga pria di depanku. "Maaf, aku terlambat," Igo tersenyum lebar. "Lho, kok bisa?" tanyaku. "Bukan waktunya bertanya, kamu apakan mereka sampai gak pakai baju begitu?" Igo melarangku bertanya sedangkan dirinya sendiri bertanya tentang keadaan ketiga pria badut yang sekarang hanya memakai kolor. Kalau kondisi normal, aku pasti sudah tertawa. Perut dan d**a di gembul dan si brewok bergelambir. Kebalikannya, d**a si Ceking mirip piano. Tapi karena sekarang pertaruhan nyawa, boro-boro bisa tertawa. "Sialan! Bagaimana mungkin kau masih hidup? Hah?" Tina keluar dari persembunyiannya. Ia menatapku dan Igo bergant

