Selepas Ranti pergi, aku menatap Reza yang masih duduk di atas kasur. "Apa benar yang dikatakan Ranti?" tanyaku. "Masa kamu gak percaya sama dokter sih?" "Ya kan dia teman Anda, siapa tahu kalian bekerja sama seperti halnya dengan Suti." "Aku memang sakit kepala akhir-akhir ini. Tadi pagi juga memang sakit. Hanya saja kamu malah pergi. Suti mengusulkan agar aku mencari cara biar kamu kembali." "Lain kali aku gak suka kalau dibohongi." "Kan gak sepenuhnya bohong, Sesil." "Terus sekarang bagaimana?" "Antar aku pulang." Aku mendengus. Tetap saja kan aku yang harus mengurusnya? Walau kesal setengah mati, akhirnya Reza pulang bersamaku. Suti beberapa kali minta maaf sampai telingaku serasa mabok dengar kata maaf dari mulutnya. "Nyonya gak marah lagi kan?" Suti masih membuntutiku. "

