“Kalau mau, kamu bisa ikut ke Surabaya, Lul. Revan juga,” kata Papa kepadaku dan kepada Revan. “Revan sudah ada acara sendiri,” ujar Revan sambil menyendok nasi ke dalam mulutnya. Aku pun menggeleng. “Lula mau balik ke Jakarta, Pa. Ada hal penting yang harus Lula selesain,” jawabku. “Tugas?” tanya Tante Dewi. “Semacam itu,” jawabku seraya tersenyum. “Sekalinya kamu di rumah malah nggak bisa kumpul bareng,” kata Papa terdengar sedih. Aku pun sebenarnya ingin berkumpul bersama keluargaku. Apalagi setelah salah paham yang sempat menghancurkan duniaku itu. Tapi kurasa ada hal yang lebih penting dari sekadar berkumpul dengan keluargaku. Yaitu menjelaskan kesalahpahaman itu kepada Azel. Dia harus segera tahu yang sebenarnya. Aku ingin hubungannya dan Tante Erina