“Gue nggak tau kalau serumit itu masalah lo,” kata Winni terdengar prihatin. Bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca. “Ah, Lula.” Tiba-tiba ia memelukku erat. Mau tak mau air mataku ikut menetes karena mendengar isakannya. “Lo kuat banget, sih.” “Gue nggak sekuat yang lo pikir," kataku seraya melepaskan pelukan kami. Lalu aku mengusap pipiku yang dibanjiri air mata. “Lihat aja seberapa sembap wajah gue.” Aku menunjuk wajahku. Aku baru saja menceritakan masalahku kepada Winni. Masalah mengenai Mama, Papa dan Tante Erina. Juga tentang Azel dan segala macam hal lainnya. Menceritakan kembali masalah itu ternyata tak semudah perkiraanku. Berulang kali aku menarik napas dan mencoba menenangkan diri agar aku tak kembali menangis. Tapi ternyata itu adalah usaha yang sia-sia. Karena ak