Pagi itu dapur sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar naik tinggi. Aroma bawang putih yang ditumis lebih dulu memenuhi ruangan, disusul suara nasi yang diaduk cepat di atas wajan. Jevan berdiri di depan kompor dengan cbelemek sederhana yang sebenarnya jarang ia pakai, rambutnya masih sedikit basah karena baru selesai mandi. Gerakannya tidak terburu-buru, tapi jelas sudah terbiasa. Di meja makan, segelas s**u khusus ibu hamil sudah disiapkan. Hangat, tidak terlalu panas. Jevan bahkan mengecek suhunya dengan menyentuh bagian luar gelas. Vania keluar dari kamar dengan langkah pelan. Wajahnya masih sedikit mengantuk. “Kamu sudah bangun lama?” “Tidak lama,” jawab Jevan tanpa menoleh. “Hari ini kamu bilang mau nasi goreng udang lagi.” Vania tersenyum kecil. “Aku cuma bilang kepikira

