Pagi itu Jevan sudah bersiap lebih rapi dari biasanya. Ia bahkan membatalkan satu pertemuan kerja agar bisa mengantar Vania kontrol kehamilan. Jadwal sudah dibuat sejak minggu lalu, tepat ketika usia kandungan Vania memasuki bulan keempat. Vania duduk di tepi tempat tidur sambil mengenakan sepatu flat yang nyaman. Perutnya memang belum terlihat menonjol, hanya sedikit lebih penuh dari biasanya. Kalau tidak tahu, orang mungkin mengira ia hanya sedikit bertambah berat badan. “Aku sudah siap,” katanya pelan. Jevan mendekat dan membantu merapikan rambutnya yang sedikit keluar dari jepit. “Kita berangkat sekarang. Biar tidak terlalu ramai.” Mereka baru saja keluar kamar ketika Jelita muncul dari kamarnya dengan tas selempang di bahu. “Kalian mau ke rumah sakit sekarang?” tanyanya. “Iya,”

