Malam itu rumah sudah tenang. Jelita masuk ke kamarnya lebih dulu setelah menonton sebentar di ruang tengah. Lampu-lampu utama dimatikan satu per satu sampai hanya tersisa cahaya lembut dari kamar utama. Vania keluar dari kamar mandi dengan piyama katun longgar berwarna biru muda. Rambutnya mvasih sedikit basah, ia mengeringkannya dengan handuk kecil sambil berjalan pelan ke arah tempat tidur. Wajahnya terlihat bersih dan lelah dengan cara yang tenang. Jevan sudah berbaring setengah duduk, punggungnya bersandar pada sandaran tempat tidur. Ia menatap Vania beberapa detik tanpa berkata apa-apa. “Kenapa?” tanya Vania kecil sambil menyisir rambutnya dengan jari. “Tidak kenapa-kenapa,” jawab Jevan pelan. “Ke sini.” Ia menepuk sisi tempat tidur di sampingnya. Vania tersenyum tipis dan lang

