Sepulang dari restoran, suasana mobil terasa jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat. Tidak ada lagi candaan ringan atau komentar soal rasa makanan. Jelita duduk di kursi belakang dengan wajah menghadap jendela, lampu-lampu kota memantul samar di kaca. Begitu sampai di rumah, ia langsung turun tanpa menunggu siapa pun, masuk lebih dulu, dan naik ke kamarnya tanpa berkata apa-apa. Pintu kamarnya tertutup pelan. Jevan berdiri beberapa detik di ruang tengah, lalu menoleh bpada Vania. “Papa tidak suka lihat dia seperti itu.” Vania juga memperhatikan sejak tadi. Wajah Jelita bukan marah. Bukan juga kesal. Lebih seperti kecewa yang ditahan. “Aku ke kamarnya ya,” kata Vania pelan. “Kamu capek,” jawab Jevan refleks. “Aku tidak apa-apa.” Jevan menatapnya beberapa detik. “Kamu yakin?” “Iy

