Pagi itu belum terlalu ramai. Jam masih menunjukkan pukul enam lewat sedikit. Rumah masih setengah sunyi, hanya terdengar suara sendok beradu pelan dengan piring dari arah dapur. Jelita turun dengan langkah malas, rambutnya masih shetengah diikat. Ia berniat hanya mengambil air minum sebelum kembali ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan di meja makan. Vania duduk santai dengan satu mangkuk besar di depannya. Isinya irisan mangga muda. Hijau pucat. Keras. Dan jelas sekali asamnya pasti bukan main. Di samping mangkuk itu ada sedikit campuran garam dan cabai bubuk. Jelita mengernyit. “Kamu serius?” Vania menoleh, wajahnya terlihat segar pagi itu. “Pagi.” “Kamu makan itu?” “Iya.” Jelita mendekat, memperhatikan lebih jelas. Vania mengambil satu potong ma

