Bab 103

2410 Kata

Malam sudah jauh melewati tengah malam ketika Vania membuka mata tiba-tiba. Kamar gelap. Hanya lampu tidur kecil yang menyala redup di sudut ruangan. Suasana sunyi, bahkan suara kendaraan di luar hampir tidak terhdengar lagi. Namun perutnya terasa kosong. Bukan sekadar lapar biasa. Ini rasa ingin yang mendesak. Spesifik. Tajam. Nasi goreng udang. Ia menelan ludah. Bayangan nasi hangat yang digoreng dengan bawang putih, potongan udang manis, sedikit kecap, dan aroma minyak panas langsung memenuhi pikirannya. Ia menoleh ke samping. Jevan masih tertidur pulas, satu tangan terletak di atas perutnya. Vania menggigit bibir. Jam di meja menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit. Ia ragu sejenak. Namun rasa ingin itu semakin kuat. “Jevan…” panggilnya pelan. Tidak ada respons. Ia me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN