Langit sore mulai meredup ketika Vania keluar dari area kampus lewat pintu samping. Jalur itu lebih sepi, biasa dbia pilih kalau ingin cepat sampai ke halte tanpa harus berpapasan dengan banyak orang. Tasnya digenggam erat, langkahnya tidak tergesa tapi jelas waspada. Percakapan dengan Devan tadi siang masih berputar-putar di kepalanya, seperti suara yang menolak pergi. Dia tidak tahu… bahwa sejak dia meninggalkan gedung fakultas, sepasang mata sudah mengikuti. Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir terlalu lama untuk ukuran normal. Kacanya gelap. Mesin menyala. Dua pria di dalamnya tidak banyak bicara. Salah satu memegang ponsel, membaca ulang pesan yang baru saja masuk. Target keluar. Ikuti. Jangan gegabah. Pria di kursi pengemudi melirik spion. “Itu dia?” “Ya. Jangan samp

